RADARTUBAN - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengemukakan alasan baru di balik ambisinya untuk menguasai Greenland.
Kali ini, ia menilai penguasaan pulau tersebut penting bagi kepentingan keamanan nasional AS, khususnya untuk mendukung pembangunan sistem pertahanan rudal Golden Dome yang tengah dirancang pemerintahannya.
Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa Greenland memiliki peran strategis dalam membangun perisai pertahanan rudal yang kuat dan terintegrasi.
Ia menyampaikan pandangan itu melalui akun Truth Social pada Rabu (14/1).
“Amerika Serikat membutuhkan Greenland untuk tujuan keamanan nasional. Pulau itu sangat penting bagi Golden Dome yang sedang kita bangun. NATO harus memimpin langkah agar kita bisa mendapatkannya,” tulis Trump.
Dalam beberapa pekan terakhir, pernyataan Trump mengenai Greenland kian menguat.
Ia secara terbuka menyatakan keinginannya agar AS mengakuisisi wilayah otonom milik Denmark tersebut “dengan cara apa pun”, bahkan mengisyaratkan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan.
Golden Dome sendiri diumumkan Trump pada awal tahun lalu. Sistem pertahanan itu diproyeksikan melibatkan teknologi berbasis antariksa serta opsi kemampuan serangan pendahuluan.
Proyek ambisius ini diperkirakan menelan biaya lebih dari 542 miliar dolar AS dalam kurun waktu dua dekade.
Trump juga mengeklaim bahwa keberadaan Greenland di bawah kendali AS akan membuat NATO menjadi jauh lebih kuat dan efektif.
Menurutnya, tanpa Amerika Serikat, aliansi tersebut tidak akan memiliki daya tangkal yang memadai.
Ia kembali mengulang pernyataannya bahwa jika AS tidak menguasai Greenland, maka Rusia dan China akan melakukannya.
Klaim tersebut segera dibantah oleh Rusia, China, serta otoritas Greenland. Mereka menegaskan tidak ada rencana dari pihak mana pun untuk mengambil alih pulau tersebut, dan menolak narasi yang dibangun Trump.
Trump sendiri pertama kali mengemukakan wacana pengambilalihan Greenland pada awal masa jabatan keduanya. Dorongan itu kembali diperbarui dalam beberapa minggu terakhir dengan nada yang semakin tegas.
Meski demikian, pemerintah Denmark menyatakan hanya bersedia bekerja sama dengan AS dalam kerangka NATO, bukan dalam konteks penyerahan wilayah.
Kopenhagen menegaskan bahwa masa depan Greenland sepenuhnya berada di tangan rakyatnya.
Dalam referendum 2008, warga Greenland memilih untuk mempertahankan status pemerintahan sendiri di bawah Kerajaan Denmark.
Perdana Menteri Greenland, Jens-Frederik Nielsen, pada Selasa lalu kembali menegaskan komitmen pulau itu kepada Denmark dan Uni Eropa dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen.
Menanggapi hal tersebut, Trump menyatakan, “Itu akan menjadi masalah besar baginya,” tanpa menjelaskan lebih lanjut maksud pernyataannya.
Polemik Greenland pun terus berkembang, memperlihatkan bagaimana pulau Arktik itu semakin menjadi titik strategis dalam dinamika geopolitik global, terutama di tengah persaingan kekuatan besar dunia.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni