RADARTUBAN - Pemerintah Inggris berencana memangkas anggaran pendanaan iklim bagi negara-negara berkembang dari 11,6 miliar poundsterling menjadi sekitar 9 miliar poundsterling untuk lima tahun ke depan.
Kementerian Keputusan Keuangan ini menuai sorotan karena melanggar komitmen global yang dijanjikan tahun lalu.
Pengalihan Anggaran Picu Kekhawatiran Global Rencana pemotongan ini setara dengan penurunan sekitar 40 persen jika dihitung dengan inflasi sejak kesepakatan 2021.
Aktivis seperti Mohamed Adow dari Power Shift Africa memperingatkan bahwa langkah ini bisa membantu krisis kemanusiaan di negara-negara rentan, termasuk hilangnya mata pencaharian akibat bencana iklim.
Badan intelijen Inggris sendiri menyoroti risiko keamanan nasional dari kerusakan ekosistem di Amazon dan Kongo, seperti streaming harga pangan.
intensifikasi terjadi pasca-komitmen negara maju di COP30 untuk meningkatkan pendanaan iklim menjadi 300 miliar dolar AS per tahun pada tahun 2035.
Namun, tanpa kontribusi rinci per negara, kebijakan Inggris berpotensi memicu efek domino di negara lain ikut mengurangi bantuan.
Anggaran ini bersumber dari bantuan luar negeri Inggris yang telah dipangkas menjadi 0,3 persen dari PDB pada tahun 2025, turun dari 0,7 persen sebelumnya.
Pemerintah merencanakan alokasi 2 miliar poundsterling per tahun untuk tiga tahun awal, lalu 1,5 miliar untuk 2029-2031, jelang pemilu parlemen 2029.
Kementerian Keuangan masih berdiskusi dengan Kementerian Luar Negeri soal rincian ICF4, putaran keempat program pendanaan iklim sejak 2010.
Ada upaya kreatif untuk meluncurkan proyek pendidikan dan kesehatan ke kategori iklim, potensi hingga 30 persen bantuan untuk negara termiskin.
Menteri Luar Negeri Yvette Cooper dikritik kurang prioritas iklim dibandingkan pendahulunya, meski dia absen di COP30 Brasil.
Langkah ini menimbulkan tanda tanya atas konsistensi Inggris, termasuk MoU dengan Indonesia soal iklim Januari lalu.
Pakar menilai pemangkasan hanya merugikan kepentingan Inggris sendiri di tengah penarikan mundur AS dari UNFCCC oleh Presiden Trump. Kritik intelijen Inggris menekankan urgensi pendanaan untuk mencegah konflik global akibat iklim. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama