RADARTUBAN - Pengguna TikTok di Amerika Serikat ramai-ramai menghapus akun mereka sebagai bentuk protes terhadap kebijakan baru platform tersebut.
Gelombang aksi ini dipicu oleh pengumuman pendirian patungan TikTok USDS yang dinilai kurang transparan terkait data privasi.
warganet AS menyatakan mengecewakan karena kebijakan privasi baru memungkinkan pengumpulan data lokasi yang lebih detail tanpa persetujuan eksplisit.
Sensor Tower mencatat penghapusan penghapusan aplikasi hingga 150 persen dalam lima hari terakhir, dibandingkan periode sebelumnya.
Pengguna seperti @bookwormshayhudr di platform Threads mengumumkan keputusannya menghapus akun, menyebut TikTok "tidak aman lagi" meskipun pengalaman sebelumnya menyenangkan.
Sementara itu, kreator besar seperti Dre Ronayne dengan 400.000 pengikut juga tutup akun, menyoroti sensor dan persyaratan kesepakatan yang lepas kendali.
Protes ini diperparah gangguan teknis seperti pemadaman dan kesulitan mengunggah video selama 24 jam, yang dikaitkan dengan pusat data AS.
Kreator Nadya Okamoto dengan 4 juta pengikut beralih ke Instagram dan YouTube, karena TikTok belum memberikan penjelasan yang jelas tentang dampak usaha patungan.
Lonjakan ini terjadi pasca pengumuman 23 Januari 2026, di mana TikTok mengklaim entitas baru melindungi 200 juta pengguna AS dari isu keamanan nasional, termasuk algoritma dan moderasi konten. Namun, syarat layanan baru yang langsung berlaku picu reaksi negatif massal. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama