RADARTUBAN – Peningkatan ketegangan di berbagai wilayah dunia memicu kegelisahan global. Bukan lagi sekadar wacana di meja diplomasi, kekhawatiran akan pecahnya Perang Dunia III kini mulai memengaruhi persepsi masyarakat umum, khususnya di negara-negara Barat.
Berdasarkan laporan yang dikutip dari Kompas.com, hampir separuh warga Amerika Serikat meyakini konflik global berskala besar sangat mungkin terjadi dalam lima tahun ke depan.
Peningkatan Kegelisahan Masyarakat Barat
Hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh Politico terhadap lima negara Barat pada awal Februari 2026 menunjukkan tren peningkatan kecemasan publik.
Sebanyak 46 persen warga Amerika Serikat menyatakan Perang Dunia III sangat mungkin terjadi sebelum 2031.
Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan survei Maret tahun sebelumnya yang berada di angka 38 persen.
Situasi serupa juga terlihat di Inggris. Sebanyak 43 persen responden di negara tersebut menyatakan kekhawatiran yang sama.
Data ini menunjukkan persepsi bahwa dunia sedang berada dalam kondisi yang semakin tidak stabil dan rentan terhadap konflik militer besar.
Ancaman Senjata Nuklir Jadi Kekhawatiran Nyata
Kecemasan publik tak hanya berhenti pada kemungkinan perang konvensional. Ancaman penggunaan senjata nuklir pun menjadi perhatian serius.
Kepala jajak pendapat lembaga Public First, Seb Wride, menyebut bahwa setidaknya satu dari tiga responden di Amerika Serikat dan Inggris percaya senjata nuklir kemungkinan atau sangat mungkin digunakan dalam konflik global mendatang.
Menurutnya, perubahan persepsi tersebut mencerminkan ketidakpastian tatanan dunia yang semakin kompleks dan berisiko tinggi.
Dukungan Wajib Militer Meningkat di Eropa
Meski kekhawatiran terhadap perang meningkat, dukungan terhadap lonjakan besar anggaran militer tidak serta-merta melonjak.
Di Jerman dan Prancis, misalnya, masyarakat justru lebih condong mendukung kebijakan wajib militer sebagai langkah penguatan pertahanan nasional.
Hal ini menunjukkan bahwa publik tetap selektif dalam menyikapi ancaman global, dengan mempertimbangkan opsi yang dinilai lebih strategis dan berkelanjutan.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa alarm geopolitik dunia bukan sekadar isu elite politik, melainkan telah menjadi kekhawatiran nyata di kalangan masyarakat luas. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni