RADARTUBAN - Kerja sama antara Honda dan Aston Martin di Formula 1 ternyata tidak berjalan mulus.
Menjelang pembukaan F1 di Australia, pabrikan asal Jepang tersebut harus berjibaku dengan masalah serius pada unit daya yang mereka kembangkan.
Masalah ini mencuat setelah Aston Martin menjalani rangkaian uji coba pramusim yang jauh dari kata ideal.
Pada tes di Barcelona, keterlambatan pengiriman mobil membuat waktu uji di lintasan sangat terbatas. Situasi tidak membaik di Bahrain, di mana Aston Martin hanya mencatatkan jarak tempuh 2.115 km, jauh tertinggal dari tim lain seperti Mercedes atau Ferrari.
Senagai satu-satunya tim pengguna mesin Honda, minimnya jarak tempuh ini berdampak langsung pada proses pengembangan unit daya baru.
Di hari terakhir tes Bahrain, Aston Martin bahkan terpaksa selesai lebih awal karena adanya kerusakan pada baterai. Hal ini membuat Fernando Alonso hanya mampu mengoleksi enam lap lintasan.
Dalam keterangannya, Honda menjelaskan masalah utama mesin buatannya berasal dari getaran berlebih pada mesin V6 yang berdampak ke sistem baterai.
Menurut kepala divisi balap roda empat HRC, Ikuk Takeishi, kondisi ini dinilai berisiko jika mobil terus dipaksa melaju, kendati belum mengarah ke potensi kecelakaan.
Saat ini, tim teknis dari Honda tengah melakukan investasi secara menyeluruh, termasuk pengujian baterai dengan monokok terpasang demi menganalisis interaksi antar komponen.
Takeishi mengakui, masalah yang menimpa mesin Honda tergolong kompleks karena melibatkan banyak bagian.
Akibatnya, Honda dan Aston Martin diprediksi akan menghadapi keterbatasan performa di awal musim 2026.
Target realistis mereka adalah membawa mobil ke kondisi ideal paling tidak pada GP Jepang yang menjadi seri ketiga musim ini.
Meski awal kemitraan ini penuh tantangan, bos HRC Koji Watanabe menegaskan komitmen jangka panjang kedua pihak.
Dia menyebut diskusi intens telah dilakukan bersama pimpinan Aston Martin, termasuk Lawrence Stroll dan Adrian Newey, demi memastikan kesiapan tim saat musim resmi dimulai di Australia. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama