Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Profil Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran yang Dilaporkan Wafat Akibat Serangan As dan Israel

M Robit Bilhaq • Minggu, 1 Maret 2026 | 11:50 WIB

Ayatollah Ali Khamenei.
Ayatollah Ali Khamenei.

RADARTUBAN - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran, telah wafat dalam sebuah operasi serangan udara gabungan antara militer AS dan Israel yang menyasar kompleks kediamannya pada Sabtu (28/2) waktu setempat.

Klaim tersebut akhirnya divalidasi oleh otoritas di Iran.

Melihat laporan BBC International, pembawa acara di media televisi pemerintah tampak meneteskan air mata saat menyiarkan kabar duka tersebut.

Saat ini, Iran tengah berada dalam suasana berkabung yang mendalam, dan pemerintah telah menetapkan masa duka nasional selama 40 hari.

Khamenei merupakan tokoh inti yang selama lebih dari tiga puluh tahun menentukan arah kebijakan strategis serta garis perlawanan Iran.

Sejarah mencatat bahwa kepemimpinan Khamenei dimulai sejak tahun 1989 untuk menggantikan posisi Ayatollah Ruhollah Khomeini.

Jika sosok Khomeini dipandang sebagai perancang ideologi di balik Revolusi Islam 1979, Khamenei justru berperan dalam memperkokoh basis kekuasaan negara melalui pengembangan sektor militer, penguatan paramiliter, serta perluasan jaringan pengaruh di kawasan regional.

Sebelum menduduki posisi pemimpin tertinggi, Khamenei sempat menjabat sebagai Presiden Iran di tengah berkecamuknya Perang Iran-Irak (1980-1988) sebelum akhirnya menduduki posisi pemimpin tertinggi.

Masa kelam perang tersebut diyakini telah membentuk perspektifnya yang penuh kecurigaan terhadap negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat, yang pada periode itu memberikan dukungan kepada rezim Saddam Hussein di Irak.

Vali Nasr, seorang spesialis isu Iran sekaligus penulis buku Iran's Grand Strategy, menjelaskan kepada Al Jazeera pada Minggu (1/3) bahwa pengalaman Khamenei sebagai presiden di masa perang menumbuhkan keyakinan kuat bahwa Iran berada dalam posisi rentan dan wajib senantiasa bersiap menghadapi segala bentuk intimidasi.

Bagi Khamenei, eksistensi revolusi, sistem republik Islam, serta semangat nasionalisme Iran merupakan satu kesatuan mutlak yang wajib diproteksi.

Di bawah kendalinya, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengalami evolusi signifikan menjadi kekuatan yang mendominasi, tidak hanya dalam urusan pertahanan, melainkan juga merambah ke ranah politik dan struktur ekonomi.

Khamenei juga memperkenalkan doktrin "ekonomi perlawanan" sebagai upaya agar Iran dapat mandiri secara ekonomi di tengah kepungan sanksi internasional dari Barat.

Namun, garis kepemimpinan yang kaku ini menuai banyak kecaman di internal negara.

Tindakan represif yang keras terhadap aksi protes pasca-pemilu 2009 serta gelombang unjuk rasa hak-putri pada tahun 2022 menunjukkan karakter kepemimpinan Khamenei yang menganggap gejolak domestik sebagai ancaman serius bagi keamanan nasional.

Vali Nasr menambahkan bahwa masyarakat Iran harus menanggung beban yang sangat berat demi mempertahankan visi kemerdekaan nasional tersebut, yang pada akhirnya mengakibatkan memudarnya dukungan dari sebagian besar warga terhadap Khamenei.

Walaupun memiliki reputasi sebagai pemimpin yang keras, Khamenei juga pernah menunjukkan sisi pragmatisnya.

Hal ini terlihat saat Khamenei merestui kesepakatan nuklir tahun 2015 (JCPOA) guna meringankan beban ekonomi akibat sanksi.

Namun, di bawah administrasi Trump AS keluar dari perjanjian tersebut memicu kembalinya sikap konfrontatif Khamenei, yang kemudian menutup rapat pintu dialog dengan Washington.

Khamenei kemudian mengadopsi strategi "tidak damai namun tidak perang" serta memperkuat koalisi regional yang disebutnya sebagai "poros perlawanan", yang terdiri dari kelompok seperti Hizbullah, Hamas, dan Houthi.

Pola tersebut menempatkan Iran sebagai aktor kunci dalam berbagai konflik regional sekaligus menjadikannya sasaran utama bagi Israel.

Situasi mencapai titik didih setelah pecahnya perang antara Israel dan Hamas, diikuti oleh serentetan serangan Israel ke target-target Iran dan sekutunya.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bahkan pernah melontarkan ancaman pembunuhan secara terang-terangan terhadap Khamenei.

Dalam salah satu pidatonya, Khamenei memberikan penegasan bahwa rakyat Iran tidak akan pernah menyerah dan memperingatkan bahwa agresi militer dari Amerika Serikat hanya akan menimbulkan kerusakan yang bersifat permanen.

Bagi para loyalisnya, Khamenei dipandang sebagai ikon ketangguhan dalam menghadapi tekanan dari Barat dan Israel.

Sebaliknya, bagi para pengkritiknya, Khamenei dinilai semakin menjauh dari aspirasi generasi muda Iran yang lebih mendambakan reformasi serta perbaikan kondisi ekonomi daripada terus terjebak dalam isolasi dan perselisihan yang tiada akhir.

Wafatnya Khamenei kini berpotensi menjadi momentum perubahan paling signifikan dalam sejarah Republik Islam Iran sejak peristiwa revolusi tahun 1979. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#as #Amerika Serikat #geopolitik #Israel #ali khamenei