Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Harga Minyak Gila-gilaan! Efek Penutupan Selat Hormuz Akibat Perang Iran vs AS-Israel

M Robit Bilhaq • Selasa, 3 Maret 2026 | 19:16 WIB

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran memicu kekhawatiran krisis energi global dan lonjakan harga minyak mentah.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran memicu kekhawatiran krisis energi global dan lonjakan harga minyak mentah.

RADARTUBAN - Pemerintah Iran telah resmi mengumumkan pemblokiran total terhadap Selat Hormuz.

Tidak hanya sekadar menutup jalur tersebut, Iran juga melontarkan peringatan keras bahwa setiap kapal yang memaksakan diri untuk melintas akan menjadi target serangan langsung.

Langkah tersebut sebagai tanda bahwa puncak eskalasi terbaru setelah agresi udara yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel pada hari Sabtu lalu.

Operasi militer yang diberi sandi Epic Furry oleh pihak Donald Trump tersebut telah mengakibatkan gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei.

Sebagai bentuk pembalasan, Iran meluncurkan rentetan rudal yang menyasar wilayah Israel serta negara-negara di kawasan Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat, di antaranya Qatar, Bahrain, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.

Di saat yang sama, faksi militer Hizbullah dari Lebanon juga menyatakan komitmennya untuk berdiri membela Iran dan melakukan aksi balasan atas kematian Khamenei.

Melihat laporan dari Reuters dan Al Jazeera, pernyataan mengenai penutupan jalur laut strategis tersebut disampaikan melalui laman resmi pemerintah Iran pada hari Senin waktu setempat.

Ancaman serangan terhadap kapal-kapal yang melintas dikonfirmasi oleh salah seorang komandan senior di Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).

Penasihat senior untuk panglima tertinggi IRGC, Ebrahim Jabari, menegaskan dalam rilisnya pada Selasa (3/3) bahwa selat tersebut kini telah tertutup sepenuhnya.

Ebrahim memperingatkan bahwa jika ada pihak yang mencoba menerobos, unit angkatan laut reguler bersama pasukan Garda Revolusi akan menghancurkan kapal-kapal tersebut.

Selain ancaman terhadap armada laut, Jabbari juga mengancam akan menyabotase jalur pipa minyak di kawasan.

Ebrahim memprediksi tindakan tersebut akan memicu lonjakan harga minyak mentah secara ekstrem hingga menyentuh angka US$200 per barel, dari posisi harga saat ini.

Dalam keterangannya yang dimuat oleh kantor berita semi-resmi Tasnim, Jabbari menambahkan bahwa pihak mereka akan menargetkan infrastruktur pipa minyak dan memastikan tidak ada satu tetes pun minyak yang berhasil keluar dari wilayah tersebut.

Jabbari menyindir Amerika Serikat yang meskipun memiliki beban utang hingga miliaran dolar, namun tetap sangat bergantung pada pasokan energi dari kawasan tersebut.

Jabbari tegaskan, Washington harus sadar bahwa mereka tidak akan mendapatkan pasokan minyak sama sekali.

Pernyataan dari Jabbari tersebut bukan sekadar ancaman lisan semata, tetapi adalah tantangan nyata terhadap stabilitas energi yang menjadi fondasi pasar global.

Selat Hormuz, yang secara geografis terletak di antara Iran dan Oman, adalah urat nadi transit minyak paling krusial di dunia, di mana sekitar 20 persen dari total pasokan minyak bumi global melintasi jalur sempit tersebut.

Berdasarkan data dari Administrasi Informasi Energi (EIA) AS, setiap harinya terdapat sekitar 21 juta barel minyak yang diangkut melalui Selat Hormuz.

Adanya gangguan sekecil apa pun di lokasi ini dipastikan akan mendorong harga minyak mentah mengalami peningkatan dan memperburuk kekhawatiran akan terjadinya perang regional yang lebih luas.

Sejak konflik dimulai, harga energi terpantau sudah mengalami kenaikan signifikan pada Senin pagi akibat terhambatnya lalu lintas kapal tanker.

Kerusakan pada sejumlah fasilitas produksi energi juga menambah ketidakpastian global mengenai sejauh mana dampak serangan AS-Israel ke Iran akan memengaruhi ketersediaan pasokan bagi ekonomi dunia.

Secara historis, Iran sebenarnya pernah melontarkan ancaman serupa untuk menutup Selat Hormuz pada tahun 2019 akibat ketegangan dengan Amerika Serikat, namun saat itu ancaman tersebut tidak direalisasikan secara penuh.

Pada perdagangan kemarin, minyak mentah jenis Brent ditutup pada level US$80 per barel.

Namun, dalam analisisnya pekan lalu JPMorgan memperkirakan bahwa jika gangguan di Hormuz terjadi dalam jangka panjang, harga minyak dapat dengan mudah melampaui US$120 per barel.

Bahkan berpotensi menyentuh US$150 per barel apabila fasilitas produksi di Arab Saudi turut terkena dampak serangan secara langsung. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#harga minyak dunia #iran #selat hormuz