Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Bukan Hanya Rudal, Iran Lancarkan Perang Siber ke AS: Bank hingga CCTV Jadi Sasaran!

M Robit Bilhaq • Rabu, 11 Maret 2026 | 07:43 WIB

Ilustrasi Hacker
Ilustrasi Hacker

RADARTUBAN – Konflik geopolitik yang memanas di kawasan Timur Tengah kini tidak hanya berlangsung di medan militer, tetapi juga merambah dunia digital.

Kelompok peretas yang diduga berasal dari Iran dilaporkan berhasil menyusup ke sejumlah jaringan infrastruktur di United States.

Target infiltrasi tersebut mencakup berbagai sektor penting, mulai dari sistem perbankan, perusahaan teknologi, hingga fasilitas bandar udara.

Kelompok MuddyWater Diduga Jadi Dalang

Para pakar keamanan siber dari Symantec dan VMware Carbon Black mengungkap bahwa aktivitas peretasan tersebut diduga dilakukan oleh kelompok hacker bernama MuddyWater.

Kelompok ini dipercaya memiliki keterkaitan dengan Ministry of Intelligence and Security (MOIS), lembaga intelijen Iran yang dikenal aktif melakukan operasi spionase siber di berbagai negara.

Menurut laporan para peneliti, aktivitas infiltrasi telah berlangsung sejak awal Februari 2026.

Intensitas serangan bahkan dilaporkan meningkat setelah terjadinya serangan militer oleh United States dan Israel pada 28 Februari lalu.

Malware “Dindoor” dan “Fakeset” Ditemukan

Dalam investigasi tersebut, para peneliti menemukan keberadaan celah keamanan berupa backdoor baru yang dinamai Dindoor.

Backdoor ini memungkinkan peretas mengendalikan sistem dari jarak jauh tanpa terdeteksi.

Malware tersebut ditemukan di jaringan perusahaan teknologi yang memiliki operasional di Israel, sistem perbankan di Amerika Serikat, serta organisasi nirlaba di Canada.

Selain itu, peneliti juga menemukan backdoor lain bernama Fakeset yang dikembangkan menggunakan bahasa pemrograman Python.

Perangkat lunak berbahaya ini terdeteksi di jaringan bandara serta lembaga non-profit di wilayah Amerika.

Malware tersebut menggunakan sertifikat digital atas nama Amy Cherne dan Donald Gay, yang disebut memiliki keterkaitan dengan operasi kelompok MuddyWater.

Hacker Diduga Sudah Lama Menyusup

Yang membuat situasi semakin mengkhawatirkan adalah fakta bahwa para peretas kemungkinan sudah berada di dalam jaringan target sebelum konflik militer terbaru terjadi.

Artinya, mereka memiliki potensi untuk melancarkan serangan siber kapan saja terhadap berbagai institusi yang telah berhasil mereka infiltrasi.

Peneliti juga menemukan indikasi adanya upaya pencurian data dari perusahaan pengembang perangkat lunak yang memasok teknologi untuk sektor industri pertahanan dan kedirgantaraan.

Data tersebut diduga hendak dikirim ke layanan penyimpanan awan eksternal, meskipun hingga kini belum dipastikan apakah upaya pencurian tersebut berhasil.

CCTV Pernah Diretas untuk Pengintaian

Dalam catatan sebelumnya, kelompok MuddyWater juga dilaporkan pernah membobol server kamera pengawas atau CCTV di Jerusalem pada 2025.

Aksi tersebut memungkinkan mereka memantau aktivitas kota secara langsung untuk memetakan target potensial.

Saat Iran melancarkan serangan pada Juni tahun lalu, otoritas Israel menyebut kamera pengawas yang diretas digunakan untuk membantu proses pengumpulan intelijen dan meningkatkan akurasi penentuan sasaran rudal.

Selain itu, perusahaan keamanan siber Check Point Software Technologies juga melaporkan ratusan percobaan peretasan terhadap kamera pengawas yang terhubung dengan internet di Israel serta beberapa negara Timur Tengah sejak konflik memanas pada 28 Februari.

Perang Siber Jadi “Mata” Militer Modern

Meski hingga kini belum terjadi serangan siber berskala besar yang menimbulkan kerusakan masif, para pakar menilai ancaman tersebut tetap serius.

Dalam perang modern, serangan siber kerap berfungsi sebagai “indra tambahan” bagi kekuatan militer, terutama dalam mengumpulkan data intelijen secara real time.

Informasi yang diperoleh melalui infiltrasi digital dapat digunakan untuk mendukung operasi militer di dunia nyata, mulai dari pemetaan target hingga pengendalian sistem penting di negara lawan. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Konflik Geopolitik #as #MuddyWater #serangan siber #timur tengah #hacker #keamanan siber #militer #bank #cctv