RADARTUBAN – Harga minyak dunia dalam beberapa waktu terakhir mengalami pergerakan yang sangat fluktuatif.
Setelah sempat melonjak tajam akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah, pasar energi global kini mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan.
Data yang dirilis oleh Refinitiv menunjukkan bahwa pada Selasa pagi (10/3) sekitar pukul 09.50 WIB, harga minyak mentah Brent Crude Oil berada di level 98,96 dolar AS per barel.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Tembus US$ 113 per Barel, Krisis Timur Tengah Picu Kepanikan Pasar Energi Global
Sementara itu, minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat di posisi 94,77 dolar AS per barel.
Angka tersebut menunjukkan penurunan dibandingkan lonjakan harga yang terjadi pada awal pekan.
Harga Sempat Tembus Level Tertinggi
Jika melihat tren dalam sepekan terakhir, kenaikan harga minyak sebenarnya telah terjadi cukup cepat sejak akhir Februari.
Harga Brent pada 26 Februari masih berada di kisaran 70,75 dolar AS per barel, kemudian meningkat menjadi 77,74 dolar AS pada 2 Maret.
Kenaikan berlanjut hingga 81,40 dolar AS pada periode 3–4 Maret dan menembus 92,69 dolar AS pada 6 Maret.
Bahkan pada awal pekan ini, harga minyak sempat menyentuh 119 dolar AS per barel, yang merupakan level tertinggi sejak pertengahan tahun 2022.
Lonjakan tersebut dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan energi global.
Selain itu, faktor lain seperti turunnya produksi dari beberapa negara kawasan Teluk serta ketidakpastian geopolitik turut mendorong harga minyak melonjak.
Pernyataan Trump Redam Kekhawatiran Pasar
Namun penguatan harga minyak tidak bertahan lama setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberikan pernyataan terkait situasi konflik di kawasan tersebut.
Dalam wawancara bersama CBS, Trump menyebut bahwa operasi militer terhadap Iran kemungkinan besar akan segera berakhir.
Ia mengklaim operasi tersebut sudah memasuki tahap hampir rampung dan diperkirakan berlangsung jauh lebih singkat dari prediksi awal yang sebelumnya diperkirakan mencapai empat hingga lima minggu.
Pernyataan tersebut langsung meredakan sebagian kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak dunia.
Baca Juga: Karnaval Italia Viral di Media Sosial, Patung Benjamin Netanyahu dan Donald Trump Tuai Sorotan
Opsi Kebijakan Energi AS
Di sisi lain, pemerintah di Washington, D.C. juga disebut sedang mempertimbangkan sejumlah opsi kebijakan untuk menekan harga energi.
Beberapa opsi yang dibahas antara lain kemungkinan pelonggaran sanksi energi terhadap Russia serta penggunaan cadangan minyak strategis Amerika Serikat.
Langkah tersebut dinilai dapat menambah pasokan global apabila harga minyak kembali meningkat tajam.
Ancaman dari Iran Masih Membayangi
Meski demikian, ketidakpastian geopolitik belum sepenuhnya mereda.
Islamic Revolutionary Guard Corps atau Garda Revolusi Iran memperingatkan bahwa Iran tidak akan membiarkan satu liter minyak pun keluar dari wilayah tersebut apabila agresi militer oleh Amerika Serikat dan Israel terus berlanjut.
Ancaman tersebut menegaskan bahwa konflik masih berpotensi mengguncang stabilitas pasar energi global.
Ketergantungan distribusi minyak dunia pada jalur vital seperti Strait of Hormuz menunjukkan betapa rapuhnya stabilitas ekonomi global terhadap konflik di titik-titik strategis distribusi energi. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni