Pertemuan tersebut juga melibatkan International Energy Agency (IEA) dan berlangsung di tengah lonjakan harga minyak dunia yang dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik setelah serangan bersama antara United States dan Israel terhadap Iran.
Menteri Keuangan Japan, Satsuki Katayama, mengatakan para anggota G7 sepakat untuk mengambil langkah-langkah guna menjaga stabilitas pasokan energi global.
“Kami sepakat untuk mengambil langkah-langkah guna mendukung pasokan energi global serta langkah lain yang diperlukan,” ujar Katayama dalam pernyataannya usai pertemuan.
Katayama menjelaskan bahwa IEA telah menyerukan agar pelepasan cadangan minyak dilakukan secara segera dan terkoordinasi oleh negara-negara anggota G7.
Selain itu, para Menteri Energi G7 dijadwalkan akan menggelar pembicaraan lanjutan untuk membahas lebih detail mengenai rencana pelepasan cadangan minyak tersebut.
Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, yang turut hadir dalam pertemuan tersebut menyatakan bahwa kondisi pasar minyak global memburuk dalam beberapa hari terakhir.
Menurutnya, penurunan produksi minyak serta gangguan jalur distribusi energi melalui Strait of Hormuz menjadi faktor utama meningkatnya ketidakstabilan pasar.
“Situasi ini menciptakan risiko signifikan bagi pasar global. Kami telah membahas berbagai opsi yang tersedia, termasuk penyediaan cadangan minyak darurat IEA ke pasar,” kata Birol.
IEA mencatat negara-negara anggotanya saat ini memiliki lebih dari 1,2 miliar barel cadangan minyak darurat publik, ditambah sekitar 600 juta barel cadangan industri yang disimpan berdasarkan kewajiban pemerintah.
Dari jumlah tersebut, United States dan Japan bersama-sama mengelola sekitar 700 juta barel cadangan minyak publik.
Namun demikian, Menteri Keuangan France, Roland Lescure, mengatakan bahwa hingga saat ini G7 belum mengambil keputusan final terkait pelepasan cadangan minyak darurat tersebut.
Meski begitu, beberapa negara, termasuk Amerika Serikat, disebut mendukung rencana pelepasan cadangan minyak secara bersama.
AS Dorong Pelepasan Hingga 400 Juta BarelLaporan dari Financial Times menyebut Amerika Serikat termasuk negara yang mendorong pelepasan cadangan minyak secara terkoordinasi.
Beberapa pejabat AS bahkan disebut mendukung pelepasan sekitar 300 juta hingga 400 juta barel, atau sekitar 25–30 persen dari total cadangan minyak darurat.
Langkah tersebut dinilai dapat membantu menstabilkan pasar energi global jika ketegangan geopolitik terus memicu lonjakan harga minyak.
Sebelumnya, pelepasan cadangan minyak secara terkoordinasi oleh IEA juga pernah dilakukan pada tahun 2022 untuk menjaga stabilitas pasar setelah invasi Russia ke Ukraine.
Sebagai informasi, kelompok G7 terdiri dari tujuh negara ekonomi maju dunia, yakni Amerika Serikat, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, dan Prancis, serta didukung oleh European Union sebagai mitra institusional. (*)