RADARTUBAN – Pemerintah Korea Utara menyampaikan dukungan terbuka terhadap Mojtaba Khamenei yang disebut sebagai pemimpin tertinggi baru Iran.
Mojtaba disebut menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang dilaporkan gugur dalam operasi militer yang dikaitkan dengan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu.
Melalui pernyataan resmi yang disampaikan oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri di Pyongyang, Korea Utara menyatakan menghormati sepenuhnya keputusan Iran dalam menentukan pemimpin tertingginya.
Kecam AS dan Israel
Dalam laporan kantor berita pemerintah Korean Central News Agency (KCNA), Korea Utara juga melontarkan kritik keras terhadap Amerika Serikat dan Israel.
Pyongyang menilai kedua negara tersebut sebagai pihak yang bertanggung jawab atas memburuknya stabilitas global serta kerusakan keamanan di kawasan Timur Tengah.
Menurut pejabat Korea Utara tersebut, tindakan Amerika Serikat dan Israel dianggap sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan Iran serta sistem politik yang berlaku di negara tersebut.
Mereka juga menuding adanya agenda tersembunyi yang bertujuan untuk mengguncang tatanan sosial dan politik Iran.
Hubungan Tegang dengan Amerika Serikat
Selama beberapa dekade terakhir, Amerika Serikat terus berupaya menghentikan ambisi program nuklir Korea Utara melalui berbagai cara, mulai dari perundingan tingkat tinggi hingga sanksi ekonomi internasional.
Dalam beberapa waktu terakhir, pemerintahan Presiden Donald Trump kembali mencoba membuka jalur komunikasi dengan Pyongyang untuk mengupayakan pertemuan puncak bersama pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un.
Kim Jong Un disebut memberikan sinyal bahwa hubungan kedua negara dapat membaik apabila Amerika Serikat bersedia mengakui Korea Utara sebagai negara pemilik senjata nuklir.
Pantau Uji Coba Rudal
Di sisi lain, media pemerintah Pyongyang juga melaporkan bahwa Kim Jong Un baru-baru ini memantau langsung uji coba peluncuran rudal jelajah strategis dari kapal perusak angkatan laut Choe Hyon.
Uji coba tersebut disebut sebagai kelanjutan dari latihan sebelumnya yang menjadi bagian dari percepatan program persenjataan nuklir bagi angkatan laut Korea Utara.
Menurut laporan KCNA, Kim Jong Un menekankan pentingnya memperkuat sistem pertahanan serta meningkatkan kemampuan perang nuklir yang kuat dan dapat diandalkan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni