RADARTUBAN - Pemerintahan Iran menyatakan kesiapan mereka untuk memperbolehkan kapal-kapal yang memiliki keterkaitan dengan Jepang agar dapat melewati Selat Hormuz kembali.
Selat Hormuz adalah jalur distribusi yang sangat krusial karena menjadi penghubung utama bagi sekitar 93 persen kebutuhan impor minyak mentah milik Jepang.
Pembahasan Intensif Iran dan Jepang Mulai Digelar
Abbas Araghchi selaku Menteri Luar Negeri Iran, membeberkan bahwa pembahasan intensif terkait kebijakan akses khusus ini telah dimulai oleh kedua belah negara.
Pernyataan tersebut termuat dalam transkrip wawancara Araghchi bersama Kyodo News yang dipublikasikan melalui kanal Telegram pribadinya pada hari Sabtu.
Baca Juga: Bahlil Lahadalia Sebut Dua Tanker Pertamina Tertahan di Selat Hormuz, Stok BBM Aman
Komunikasi Langsung Antar Menteri Luar Negeri
Araghchi menyebutkan bahwa isu ini juga menjadi topik utama dalam diskusi melalui telepon dengan Menteri Luar Negeri Jepang, Toshimitsu Motegi.
Saat berbicara dalam sebuah program televisi pada hari Minggu, Motegi memilih untuk tidak memaparkan rincian percakapan rahasia tersebut kepada publik secara mendalam.
Baca Juga: Keir Starmer Tolak Ajakan Donald Trump, Pembukaan Selat Hormuz Bukan Misi NATO
Fokus pada Kelancaran Perdagangan dan Keamanan Kapal
Meski demikian, Motegi mengonfirmasi bahwa fokus utama dari dialog tersebut adalah mengenai pentingnya menjaga kelancaran arus perdagangan internasional.
Motegi menekankan bahwa keselamatan kapal-kapal yang melintas adalah prioritas utama dari sudut pandang kepentingan nasional Jepang.
Mengingat banyaknya volume kapal yang terlibat, Jepang percaya bahwa menciptakan situasi aman bagi seluruh armada untuk melintas adalah hal yang sangat mendesak.
Warga Jepang Dibebaskan dalam Terobosan Diplomatik
Dalam sebuah terobosan diplomatik lainnya, Motegi juga mengumumkan bahwa satu dari dua warga negara Jepang yang ditahan di Iran telah resmi dibebaskan.
Warga tersebut dilaporkan telah menempuh perjalanan melalui Azerbaijan sebelum akhirnya berhasil mendarat kembali di Jepang pada hari Minggu.
Selat Hormuz Tidak Sepenuhnya Ditutup
Isu mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi perhatian paling utama bagi Tokyo di tengah berkecamuknya konflik bersenjata antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran.
Namun, Abbas Araghchi secara tegas membantah klaim yang menyebutkan bahwa jalur perairan vital tersebut telah ditutup secara total bagi semua pihak.
Dalam transkripnya, Abbas Araghchi memberikan klarifikasi bahwa Selat Hormuz sebenarnya masih tetap beroperasi dan terbuka untuk aktivitas pelayaran tertentu.
Akses Dibatasi untuk Pihak yang Terlibat Konflik
Araghchi menjelaskan bahwa akses hanya ditutup bagi kapal-kapal milik pihak lawan atau negara-negara yang melakukan serangan terhadap kedaulatan Iran.
Bagi negara-negara lain yang tidak terlibat dalam konflik, ia menyatakan bahwa kapal mereka tetap diperbolehkan untuk melakukan pelintasan di selat tersebut.
Iran Siapkan Jalur Aman bagi Negara Bersahabat
Terkait jaminan keselamatan, diplomat senior Iran ini menegaskan bahwa pihaknya siap menyediakan jalur yang aman bagi kapal-kapal yang bersahabat.
Pihak pemangku kepentingan hanya perlu menjalin komunikasi dengan Teheran untuk mendiskusikan mekanisme serta rute teknis yang akan dijalankan.
Hubungan Hangat Jepang Beri Keuntungan Diplomatik
Araghchi menolak untuk berkomentar lebih jauh saat ditanya mengenai apakah pemerintah Jepang sudah mengajukan permintaan izin resmi untuk menyeberangi selat tersebut.
Hubungan Jepang yang relatif lebih hangat dengan Iran dibandingkan anggota G7 lainnya dinilai memberikan Tokyo daya tawar diplomatik yang lebih kuat dalam krisis ini.
Tekanan Amerika Serikat Meningkat Tajam
Pernyataan dari pihak Iran ini muncul tepat di saat tekanan dari Amerika Serikat sedang berada pada titik tertinggi yang sangat mengkhawatirkan.
Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya telah mengeluarkan tuntutan agar Iran membuka Selat Hormuz dalam kurun waktu 48 jam atau menghadapi konsekuensi militer.
Ancaman Serangan Jadi Bagian Tekanan Geopolitik
Melalui unggahan di media sosial pada Sabtu, Trump memperingatkan akan melakukan serangan destruktif jika Iran tidak membuka jalur tersebut tanpa ancaman apa pun.
Trump mengancam akan menghancurkan berbagai fasilitas pembangkit listrik di Iran, dimulai dari kapasitas yang paling besar, jika tuntutan tersebut tidak segera dipenuhi. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni