RADARTUBAN - Pemerintah Korea Selatan memperketat penerapan sistem rotasi kendaraan berbasis nomor pelat bagi sektor publik sebagai langkah antisipatif terhadap potensi gangguan pasokan minyak akibat konflik yang terus berlangsung di Timur Tengah.
Kebijakan Diperketat Seiring Krisis Energi Global
Kebijakan yang mulai diberlakukan secara lebih ketat sejak Rabu ini merupakan bagian dari strategi penghematan energi nasional guna menekan dampak krisis bahan bakar minyak (BBM) global.
Kebijakan tersebut dilaporkan oleh media lokal Yonhap News Agency dengan mengutip Kementerian Iklim Korea Selatan.
Baca Juga: Antisipasi Krisis Timur Tengah, Kemhan dan TNI Pangkas BBM Demi Jaga Stabilitas Nasional
Sistem Rotasi Berlaku Berdasarkan Nomor Pelat
Dalam skema tersebut, kendaraan dibagi ke dalam lima kelompok berdasarkan digit terakhir nomor pelat.
Setiap kelompok akan dilarang beroperasi pada hari kerja tertentu. Kendaraan berbasis listrik dan hidrogen tidak termasuk dalam pembatasan ini.
Sistem rotasi sebenarnya telah lama diterapkan, namun sebelumnya dijalankan secara lebih longgar.
Jutaan Kendaraan Terdampak Kebijakan
Diperkirakan sekitar 1,5 juta kendaraan akan terdampak oleh kebijakan ini. Pemerintah menargetkan langkah tersebut dapat menghemat konsumsi minyak mentah hingga 3.000 barel per hari.
Sebagai perbandingan, konsumsi minyak mentah Korea Selatan mencapai sekitar 2,8 juta barel per hari, dengan hampir setengahnya digunakan untuk sektor transportasi.
Langkah Tambahan Perkuat Ketahanan Energi
Selain itu, pemerintah juga mengambil langkah lain untuk menjaga ketahanan energi, termasuk melonggarkan pembatasan operasional pembangkit listrik tenaga batu bara pada hari dengan tingkat polusi rendah.
Di saat yang sama, pemerintah mendorong percepatan pengoperasian kembali lima reaktor nuklir yang saat ini tengah dalam tahap perawatan, guna mengurangi ketergantungan pada gas alam cair (LNG) yang turut terdampak situasi global.
Diplomasi Energi Dilakukan ke Sejumlah Negara
Dalam upaya memperkuat pasokan energi, Menteri Luar Negeri Korea Selatan Cho Hyun juga melakukan komunikasi diplomatik dengan sejumlah negara.
Dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Oman Badr bin Hamad Al Busaidi, Cho meminta dukungan untuk membantu pengadaan LNG dan minyak mentah bagi Korea Selatan.
Permintaan serupa juga disampaikan kepada Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sehari sebelumnya, khususnya terkait jaminan keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Konflik Timur Tengah Picu Gangguan Energi Global
Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026, yang memicu serangkaian aksi balasan dari Iran berupa serangan drone dan rudal.
Kondisi tersebut berdampak pada terganggunya aktivitas di Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi global yang setiap harinya dilalui sekitar 20 juta barel minyak.
Gangguan ini turut memicu kenaikan biaya pengiriman serta lonjakan harga minyak di pasar internasional.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni