Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ganja Medis Dinilai Solusi Terapi Penyakit Saraf, Begini Penjelasan Pakar

S
Penulis: Silva Ayu Triani❯
Ilustrasi ganja medis sebagai alternatif terapi kesehatan di tengah wacana evaluasi regulasi.
Ilustrasi ganja medis sebagai alternatif terapi kesehatan di tengah wacana evaluasi regulasi.

RADARTUBAN - Wacana legalisasi ganja untuk kepentingan medis kembali mencuat seiring meningkatnya kebutuhan pasien penderita penyakit saraf kronis di Indonesia pada Desember 2025.


Advertisement

Isu ini dibahas secara mendalam oleh pakar forensik dr. Djaja Surya Atmadja dalam sebuah podcast yang tayang di kanal YouTube X-UNDERCOVER pada Jumat (12/12).

Dalam diskusi tersebut, terungkap adanya urgensi evaluasi regulasi karena secara medis, tanaman ini memiliki kandungan zat yang serupa dengan sistem alami dalam tubuh manusia untuk menjaga keseimbangan kesehatan.

Dunia neurosains modern telah menemukan bahwa otak manusia memiliki reseptor kanabinoid alami.

Advertisement

Tubuh manusia memproduksi zat yang disebut endokanabinoid yang berfungsi mengatur suasana hati, nafsu makan, hingga sistem kekebalan tubuh.

Penyakit berat seperti Parkinson, Alzheimer, ALS, hingga glaukoma sering kali terjadi karena tubuh mengalami defisiensi zat alami ini.

Dalam kondisi tersebut, kanabis medis hadir sebagai substitusi untuk mengontrol saraf yang tidak stabil tanpa harus memberikan efek mabuk jika dosisnya diatur secara klinis.

Advertisement

"Selama komposisi THC dan CBD itu ada dalam komposisi tertentu, dia menghilangkan efek fly-nya, tapi efek obatnya ada," ujar dr. Djaja.

Hambatan terbesar saat ini adalah kaku dan ketatnya aturan hukum yang merupakan warisan kebijakan global masa lalu.

Banyak negara kini mulai beralih membedakan antara penyalahgunaan untuk kesenangan dengan kebutuhan terapi dokter.

Indonesia sendiri dinilai perlu melakukan kajian ulang agar pasien penderita penyakit kritis tidak perlu mencari pengobatan hingga ke negara tetangga seperti Thailand hanya untuk mendapatkan akses terapi yang mereka butuhkan.

"Narkotika dalam kedokteran itu biasa kita pakai, morfin kita pakai kalau memang untuk anti-sakit, tapi dengan pengontrolan dosis dan indikasi dokter," jelasnya.

Perubahan status ganja dari zat terlarang total menjadi obat terbatas di bawah pengawasan ketat otoritas kesehatan dianggap sebagai solusi jalan tengah.

Dengan regulasi yang tepat, pemanfaatan zat ini bisa dilakukan melalui berbagai bentuk medis seperti tablet, cairan bawah lidah, atau inhalasi yang terukur secara ilmiah.

Hal ini penting untuk memastikan bahwa manfaat kesehatan didapatkan tanpa risiko penyalahgunaan.

"Kalau memang berbahaya sekali, kenapa badan kita sendiri justru menghasilkan endokanabinoid?" tegas dr. Djaja.

Pada akhirnya, kebijakan publik diharapkan mampu menjawab tantangan sains yang ada.

Legalisasi ganja medis bukan berarti membebaskan peredaran narkotika secara liar, melainkan memberikan kepastian hukum bagi para penderita penyakit saraf untuk mendapatkan pengobatan yang tepat melalui jalur medis yang legal, ilmiah, dan terpantau oleh negara. (*)

Advertisement
Editor : Yudha Satria Aditama
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar TubanIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Kreator YouTube Jangan Cuma Andalkan AdSense! Ini Sumber Cuan Lainnya

Kreator YouTube Jangan Cuma Andalkan AdSense! Ini Sumber Cuan Lainnya

Tak hanya AdSense, kreator YouTube dapat mengembangkan pendapatan melalui afiliasi, keanggotaan kanal, dan kolaborasi merek. Baca selengkapnya.

Ipda Purnomo Nonaktifkan AdSense YouTube, Tegaskan Penghasilan Selama Ini untuk Kegiatan Sosial

Ipda Purnomo Nonaktifkan AdSense YouTube, Tegaskan Penghasilan Selama Ini untuk Kegiatan Sosial

Ipda Purnomo memilih menonaktifkan monetisasi YouTube Purnomo Belajar Baik mulai Oktober demi menjaga niat dan kegiatan sosial.

Kenapa Rupiah Punya Banyak Nol? Ternyata Bukan karena Ekonomi Lemah

Kenapa Rupiah Punya Banyak Nol? Ternyata Bukan karena Ekonomi Lemah

Banyaknya nol pada Rupiah bukan ukuran kekuatan ekonomi. Ada sejarah inflasi dan persoalan struktural yang memengaruhi nilai tukarnya.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer