Tak Ada Dokter Lulusan Google atau ChatGPT, dr. Henry Suhendra Ingatkan Risiko Diagnosis Mandiri

RADARTUBAN – Google dan kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT maupun Gemini dapat membantu masyarakat mencari informasi kesehatan.
Namun, hasil pencarian tersebut tidak bisa dijadikan satu-satunya acuan untuk menentukan penyakit atau memutuskan pengobatan.
Peringatan itu disampaikan dr. Henry Suhendra dalam podcast Kafe Berisi di kanal YouTube Rhenald.Kasali.
Dokter bedah tulang sekaligus konsultan olahraga tersebut mengingatkan bahwa informasi digital tidak selalu akurat dan tidak menggantikan pemeriksaan langsung oleh tenaga medis.
“Saya bilang gini, tidak ada dokter lulusan Google University, tidak ada dokter lulusan ChatGPT, tidak ada dokter lulusan Gemini,” ujar Henry.
Baca Juga: 3 Tips Menyiapkan Ramadan Sejak Sekarang: Dari Menata Pola Tidur, Sampai Menyiapkan Pola Makan
Menurut dia, masyarakat tetap boleh mencari informasi secara mandiri untuk memahami keluhan yang dialami. Namun, informasi tersebut sebaiknya menjadi pengetahuan awal, bukan dasar untuk memastikan diagnosis tanpa konsultasi medis.
“Ya boleh-boleh aja kalau Anda mau dapat info sendiri, boleh. Kan tidak dilarang, tapi jangan hanya bergantung pada itu, pada mesin. Enggak selalu benar kok,” tegasnya.
Pola Hidup Juga Berpengaruh terhadap Kesehatan
Selain penggunaan AI, Henry membahas pentingnya menjaga kesehatan melalui perubahan gaya hidup.
Pola makan, aktivitas fisik, waktu tidur, dan pengelolaan stres menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhatikan.
Ia menceritakan pengalamannya saat masih aktif bekerja setelah menyelesaikan pendidikan kedokteran. Kesibukan, kurang tidur, dan kelelahan ketika itu membuat tekanan darahnya meningkat hingga ia sempat mengonsumsi obat.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




