Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sering Makan Gorengan dan Minuman Manis? Dokter Ungkap Risiko yang Bisa Menumpuk

S
Penulis: Sita Devi Alfiyah❯
Seseorang yang sedang mengkonsumsi makanan sehat. (unsplash.com/@louishansel)
Seseorang yang sedang mengkonsumsi makanan sehat. (unsplash.com/@louishansel)

Advertisement

RADARTUBAN - Risiko penyakit akibat pola makan tidak sehat tidak selalu muncul setelah seseorang mengonsumsi makanan tertentu hanya sekali.

Dokter Spesialis Gizi Klinis dr. Benita Silma, Sp.GK, menjelaskan, dampak dari kebiasaan makan yang buruk dapat terakumulasi apabila dilakukan terus-menerus dalam jangka panjang.

Menurut Benita, masyarakat perlu memiliki kesadaran dalam menentukan makanan dan minuman yang dikonsumsi setiap hari.

Advertisement

Sebab, kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi kalori, gula, natrium, maupun makanan yang digoreng dengan banyak minyak dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan apabila menjadi pola makan sehari-hari.

Ia mengibaratkan pilihan makanan sebagai aktivitas menabung. Setiap makanan yang dikonsumsi menjadi bagian dari kebiasaan yang dalam jangka panjang dapat memberikan dampak berbeda terhadap kondisi tubuh.

Advertisement

"Jadi itu kalau pilih makanan tuh kayak menabung. Jadi menabung itu sekali makan gorengan itu dia tidak langsung menyebabkan penyakit, atau sekali makan sehat dia langsung bisa kebal penyakit. Nah, tergantung nih kita mau nabung yang mana, mau yang sehat atau yang enggak sehat gitu," ujarnya dalam tayangan di kanal YouTube Dokter M.

Makanan Instan Jadi Pilihan karena Praktis

Benita menyoroti kebiasaan masyarakat yang semakin akrab dengan makanan instan. Kesibukan dan tuntutan aktivitas, khususnya di kawasan perkotaan, membuat makanan yang praktis kerap menjadi pilihan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Padahal, makanan rumahan yang diolah dengan proses minimal atau real food dinilai dapat menjadi pilihan yang lebih baik karena mengandung beragam zat gizi dari bahan makanan secara utuh.

Menurutnya, kebutuhan nutrisi sebaiknya tidak hanya mengandalkan produk tambahan. Suplemen serat atau produk penunjang lainnya dapat membantu memenuhi kebutuhan tertentu, tetapi tidak dapat sepenuhnya menggantikan kandungan nutrisi dari bahan makanan segar.

Karena itu, pemilihan makanan menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas asupan harian. Masyarakat perlu lebih memperhatikan kandungan makanan yang dikonsumsi, bukan hanya mempertimbangkan rasa maupun kepraktisannya.

Advertisement
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar TubanIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

BGN Klaim MBG Tingkatkan Konsumsi Protein Hewani Anak Sekolah Jadi 84 Persen

BGN Klaim MBG Tingkatkan Konsumsi Protein Hewani Anak Sekolah Jadi 84 Persen

BGN mengklaim program MBG meningkatkan konsumsi protein hewani anak sekolah menjadi 84 persen dan konsumsi buah serta sayur mencapai 90 persen.

MBG Sudah Berjalan 1,5 Tahun, Saatnya Dievaluasi: Tepat Sasaran atau Tidak?

MBG Sudah Berjalan 1,5 Tahun, Saatnya Dievaluasi: Tepat Sasaran atau Tidak?

Program MBG telah berjalan lebih dari 1,5 tahun dengan anggaran besar. Evaluasi diperlukan untuk mengukur ketepatan sasaran dan dampaknya.

Jangan Tertipu Kemasan! Ini Perbedaan Susu Murni dan Susu Rekonstitusi yang Wajib Diketahui

Jangan Tertipu Kemasan! Ini Perbedaan Susu Murni dan Susu Rekonstitusi yang Wajib Diketahui

Tak semua susu cair di minimarket terbuat dari 100 persen susu segar. Simak cara membedakan susu murni, susu rekonstitusi, dan kandungan gula tersembunyi.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer