RADARTUBAN - Sebaran kasus demam berdarah dengue (DBD) di Tuban semakin mengkhawatirkan.
Selama Januari hingga Agustus ini, dari total 585 kasus yang dilaporkan, sebanyak 12 pasien meninggal dunia. Naik tiga kasus dibanding periode sama tahun lalu.
Persebaran virus DBD ini merata di hampir 20 kecamatan se-Kabupaten Tuban. Karena itu, seluruh masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dengan menjaga pola hidup bersih dan sehat.
‘’Kasus demam berdarah ini menjadi siklus tahunan di musim penghujan,’’ kata Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Tuban Roikhan.
Dari data yang diterima Dinkes P2KB Tuban, 12 pasien meninggal dunia itu berasal dari Kecamatan Palang 3 kasus,
Kemudian Kecamatan Merakurak dan Tuban masing-masing 2 kasus. Lalu, Kecamatan Kerek, Plumpang, Tambakboyo, Widang, dan Montong masing-masing 1 kasus.
‘’Kecamatan dengan kasus pasien meninggal ini menjadi atensi kami untuk meningkatkan kewaspadaan,’’ ujarnya.
Pasien DBD yang meninggal mayoritas dari kalangan anak-anak usia 8 sampai 10 tahun. Sisanya, lanjut usia (lansia).
Pasalnya, imunitas tubuh anak-anak lebih rentan jika dibandingkan dengan orang dewasa. Pun demikian dengan lansia.
Lebih lanjut, pejabat definitif Direktur RSUD Ali Manshur Jatirogo itu menyampaikan, salah satu faktor utama meningkatkan jumlah kasus DBD ini lantaran kondisi cuaca yang tidak menentu.
Kadang hujan kadang tidak. Kondisi inilah yang menyebabkan nyamuk aedes aegypti mudah bertelur dan berkembang biak di sisa-sisa genangan air hujan.
‘’Kondisi tidak menentu itu seperti sekarang ini, meski kemarau tapi masih sering hujan. Sehingga memicu banyak genangan yang menjadi sarang nyamuk aedes aegypti berkembang biak,’’ ujarnya.
Perlu diketahui, terang Roikhan, nyamuk demam berdarah memilih tempat atau genangan air yang bersih untuk bertelur dan berkembang biak.
Artinya, semakin jernih sisa genangan, maka semakin cepat nyamuk pembawa virus dengue berkembang biak.
‘’Makanya, penting untuk memantau kondisi lingkungan sekitar pascahujan. Jangan sampai ada sisa air hujan yang masih menggenang dan berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk demam berdarah. Pastikan tidak ada barang-barang bekas yang menampung sisa air hujan,’’ pesannya.
Ditegaskan Roikhan, pemberantasan sarang nyamuk (PSN) merupakan salah satu upaya paling efektif untuk mencegah persebaran nyamuk aedes aegypti.
‘’Pembasmian nyamuk demam berdarah dengan cara fogging itu kurang efektif, karena tidak sampai menyentuh telur dan jentik-jentik nyamuknya,’’ paparnya.
Karena itu, masyarakat diminta untuk membiasakan pola hidup bersih dan melakukan pemberantasan sarang nyamuk di lingkungan sekitar. (saf/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama