RADARTUBAN - HIV pada anak di Jawa Timur masih ditemukan hingga Oktober 2025.
Data tersebut menjadi peringatan serius bagi pemerintah daerah dan pemangku kebijakan kesehatan, meskipun secara umum jumlah kasus HIV menunjukkan tren penurunan.
Fakta bahwa anak-anak masih terinfeksi menandakan adanya celah dalam sistem pencegahan yang menyangkut hajat hidup orang banyak.
Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan Jawa Timur, terdapat 75 kasus HIV pada anak hingga Oktober 2025.
Selain itu, kelompok usia remaja 15–19 tahun masih menyumbang ratusan kasus baru.
Meski jumlahnya menurun dibandingkan tahun sebelumnya, kondisi ini dinilai belum bisa dianggap aman.
Anak Terinfeksi HIV, Sistem Pencegahan Dipertanyakan
Anggota DPRD Jawa Timur, Indri Yulia Mariska, menilai temuan HIV pada anak sebagai alarm keras bagi sistem kesehatan dasar.
Dia menegaskan bahwa penurunan angka kasus HIV secara keseluruhan tidak boleh menutup mata terhadap masih munculnya kasus pada kelompok paling rentan.
“Penurunan jumlah kasus memang patut diapresiasi, tetapi munculnya kasus HIV pada anak harus menjadi alarm keras. Ini berarti masih ada celah serius dalam pencegahan penularan dari ibu ke anak,” ujar Indri seperti dikutip dari situs resmi DPRD Jatim.
Menurut Indri, persoalan ini bukan sekadar soal statistik, melainkan menyangkut hak dasar anak untuk lahir dan tumbuh sehat.
Pencegahan HIV sejak masa kehamilan dinilai menjadi kunci utama yang belum berjalan maksimal.
Penularan dari Ibu Masih Dominan
Indri mengungkapkan bahwa mayoritas HIV pada anak terjadi akibat penularan dari ibu yang tidak mendapatkan pengobatan optimal selama kehamilan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa layanan antenatal care (ANC) belum merata dan belum konsisten di seluruh wilayah Jawa Timur.
“Jika layanan antenatal care berjalan optimal, seharusnya hampir tidak ada bayi yang lahir dengan HIV,” tegasnya.
Dia menilai penguatan layanan antenatal care harus menjadi prioritas, termasuk pemeriksaan HIV sejak dini, pendampingan ibu hamil, serta keberlanjutan pengobatan.
Tanpa sistem yang kuat, upaya pencegahan HIV akan terus meninggalkan celah.
Remaja Masih Rentan, Edukasi Jadi Kunci
Selain anak, kelompok remaja juga masih menyumbang kasus HIV baru.
Indri menekankan pentingnya edukasi kesehatan reproduksi yang relevan dengan dunia remaja agar pencegahan HIV tidak bersifat sementara.
“Program sosialisasi harus relevan dengan dunia remaja, melibatkan sekolah, keluarga, dan komunitas,” katanya.
Menurutnya, pendekatan edukasi yang tidak adaptif berpotensi membuat remaja tetap berada dalam situasi berisiko.
Tanpa perbaikan sistem, HIV pada anak dan remaja akan terus menjadi masalah berulang.
Perlu Evaluasi Menyeluruh Sistem Kesehatan Dasar
Indri mendorong pemerintah daerah untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap layanan antenatal care, sistem edukasi, serta akses layanan kesehatan bagi kelompok rentan.
Penanganan kasus HIV dinilai harus berpijak pada kepentingan publik, bukan sekadar mengejar target angka.
Dia berharap upaya pencegahan HIV dilakukan secara berkelanjutan, terukur, dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Dengan demikian, hak anak untuk hidup sehat dapat benar-benar terlindungi, sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap sistem kesehatan dasar di Jawa Timur. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama