Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Kesehatan Mental Kerja Terancam Burnout, Ini Peran Karyawan dan Pemimpin Cegah Toxic Workplace

Silva Ayu Triani • Minggu, 21 Desember 2025 | 00:05 WIB
Ilustrasi pekerja mengalami kelelahan mental akibat tekanan kerja di kantor.
Ilustrasi pekerja mengalami kelelahan mental akibat tekanan kerja di kantor.

RADARTUBAN - Fenomena kelelahan mental atau burnout di lingkungan kerja menjadi ancaman serius bagi produktivitas dan kesejahteraan psikologis pekerja di kota-kota besar Indonesia.

Banyak karyawan yang terjebak dalam dilema antara beban kerja yang tinggi dengan tuntutan untuk tetap profesional di bawah pimpinan yang kurang suportif.

Topik ini dibahas dalam podcast Improved Mind di kanal YouTube Rory Asyari pada Selasa (9/12), menghadirkan pakar psikologi klinis, Analisa Widyaningrum.

Podcast tersebut mengulas strategi menghadapi tekanan kerja serta membangun kepemimpinan yang lebih manusiawi.
Baca Juga: Jangan Anggap Sepele! Ini 6 Tanda Toxic Positivity yang Diam-Diam Merusak Kesehatan Mental Kita

Situasi kerja yang dinamis sering kali memicu stres, namun tidak semua stres berdampak buruk bagi individu.

Analisa menjelaskan bahwa ada perbedaan mendasar antara stres yang memacu pertumbuhan, dengan stres kronis yang berujung pada kelelahan emosional yang berat.

Menurutnya, burnout kerap terjadi bukan semata akibat beban tugas yang tinggi, melainkan karena kurangnya dukungan dan sumber daya yang memadai.

Ketidakseimbangan ini dapat merusak pola pikir serta menurunkan motivasi kerja jika dibiarkan berlarut-larut.
Baca Juga: Baru Punya Kartu Kredit? Ini 6 Tips Penting agar Tidak Tekor dan Terjebak Utang Toxic

Kelelahan emosional ini sering kali berawal dari ketidakmampuan individu dalam mengelola respons terhadap tekanan lingkungan yang datang bertubi-tubi.

Analisa menekankan pentingnya mengambil jeda sejenak sebelum bereaksi saat sedang merasa sangat tertekan atau marah di kantor.

"Emosi itu bekerja 6 detik lebih cepat daripada logika kita," ujarnya. Jeda singkat ini sangat krusial agar logika manusia tetap berjalan dan tidak mengambil keputusan yang impulsif atau destruktif bagi reputasi kariernya di masa depan.

Di sisi lain, peran pemimpin juga menjadi faktor penentu utama dalam menjaga kewarasan mental para karyawan.

Seorang pemimpin dituntut untuk tidak hanya memberikan instruksi yang kaku, tetapi juga mampu menumbuhkan harapan serta kepercayaan diri pada setiap anggota timnya.

Namun, jika lingkungan kerja sudah dianggap sangat tidak sehat dan mulai melanggar prinsip dasar pribadi, pekerja harus memiliki keberanian untuk mengambil sikap tegas.

"Toxic yang enggak bisa ditolerir adalah ketika itu berlawanan sama hati nurani dan integritas," jelas Analisa.

Bagi mereka yang saat ini belum memiliki pilihan atau kemapanan finansial untuk berpindah tempat kerja, konsistensi dalam menjaga kinerja harian adalah kunci utama untuk bertahan hidup.

Menjaga fokus sepenuhnya pada tanggung jawab harian dapat membantu meredam rasa cemas yang berlebihan terhadap masa depan yang belum pasti.

Penekanan pada hasil kerja terbaik merupakan investasi jangka panjang bagi nilai tawar seorang profesional di pasar tenaga kerja nantinya.

"Hari ini lebih capek cari kerja daripada kerja," katanya sebagai pesan realistis bagi para pekerja, agar lebih bijak dalam merencanakan langkah karier selanjutnya tanpa gegabah.

Kesehatan mental di tempat kerja merupakan hasil sinergi antara kemampuan regulasi emosi karyawan dan kebijakan pemimpin yang berintegritas.

Menjaga keseimbangan hidup melalui kebahagiaan sederhana di luar jam kerja membantu menciptakan lingkungan yang harmonis dan tetap produktif di tengah tantangan ekonomi. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#burnout #kesehatan mental #toxic #tekanan kerja