Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Penderita Kolesterol Wajib Tahu, Ternyata Kolesterol Bukan Satu-satunya Tanda Utama Risiko Serangan Jantung

M Robit Bilhaq • Minggu, 28 Desember 2025 | 01:35 WIB

Ilustrasi penderita kolestrol tinggi.
Ilustrasi penderita kolestrol tinggi.

RADARTUBAN – Selama puluhan tahun, kadar kolesterol dianggap sebagai indikator utama untuk menilai risiko serangan jantung dan stroke.

Namun, perkembangan dunia medis terbaru mengungkap bahwa kolesterol bukan satu-satunya penanda utama penyakit kardiovaskular.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa C-reactive protein (CRP), protein yang menandakan peradangan dalam tubuh, justru dinilai lebih akurat dalam memprediksi risiko serangan jantung dan stroke.

Bahkan, American College of Cardiology sejak September 2025 merekomendasikan pemeriksaan CRP dilakukan bersamaan dengan tes kolesterol.

Baca Juga: Stroke Tak Selalu Ditandai Wajah Turun, Ini Gejala Lainnya

CRP diproduksi oleh hati sebagai respons terhadap peradangan, baik akibat infeksi, kerusakan jaringan, obesitas, diabetes, maupun gangguan metabolisme.

Kadar CRP di bawah 1 mg/dL menandakan risiko rendah, sementara angka di atas 3 mg/dL menunjukkan tingkat inflamasi tinggi yang berkaitan erat dengan penyakit jantung.

Data di Amerika Serikat menunjukkan sekitar 52 persen penduduk memiliki kadar CRP tinggi, dan sejumlah riset membuktikan indikator ini bahkan lebih akurat dibanding LDL dalam memprediksi penyakit kardiovaskular.

Menurut laporan Science Alert, peradangan kronis yang ditandai CRP tinggi merupakan pemicu awal aterosklerosis, yaitu penumpukan plak di pembuluh darah.

Baca Juga: Tren Sepakbola Malam Naik Daun, Pakar Kesehatan Ungkap Risiko Serangan Jantung

Plak tersebut dapat pecah dan membentuk gumpalan darah yang berujung pada serangan jantung atau stroke.

Meski demikian, kolesterol tetap penting, terutama jumlah partikel kolesterol jahat yang dapat diukur melalui tes apolipoprotein B (ApoB). Kadar ApoB yang tinggi juga meningkatkan risiko penyakit jantung.

Untuk menurunkan risiko, masyarakat dianjurkan menerapkan gaya hidup sehat seperti meningkatkan konsumsi serat, menghindari gula berlebih, rutin berolahraga, menjaga berat badan ideal, serta mengonsumsi lemak sehat seperti minyak zaitun dan omega-3.

Kesimpulannya, risiko serangan jantung dan stroke kini tidak lagi hanya bergantung pada kolesterol, tetapi juga pada tingkat peradangan dalam tubuh.

Deteksi dini melalui CRP dan perubahan gaya hidup menjadi kunci pencegahan penyakit jantung di masa depan. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#crpd #Kolestrol #serangan jantung #stroke