Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Guru Besar IPB Ingatkan Efek Kafein Kopi dan Teh Saat Ramadan

Siti Rohmah • Jumat, 27 Februari 2026 | 03:05 WIB

Ilustrasi kopi dan latte dalam cangkir putih
Ilustrasi kopi dan latte dalam cangkir putih

 

RADARTUBAN - Guru Besar Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga Institut Pertanian Bogor, Ali Khomsan, mengingatkan masyarakat agar lebih bijak mengonsumsi kopi dan teh selama bulan Ramadan.

Pasalnya, kandungan kafein dalam kedua minuman tersebut memiliki efek diuretik yang dapat memicu tubuh mengeluarkan cairan lebih banyak melalui urine.

Ali menjelaskan, kopi memiliki sifat diuretik yang lebih kuat dibandingkan teh karena kadar kafeinnya lebih tinggi.

Meski teh juga mengandung kafein, dampaknya terhadap peningkatan produksi urine tidak seintens kopi. Hal ini, menurut dia, perlu menjadi pertimbangan terutama saat menjalani puasa.

“Kopi bersifat diuretik sehingga orang yang mengonsumsinya akan lebih sering buang air kecil. Teh juga mengandung kafein, tetapi efek diuretiknya tidak sebesar kopi,” ujar Ali kepada ANTARA, Senin.

Dia menilai konsumsi kopi atau teh selama Ramadan pada dasarnya tidak membahayakan kesehatan.

Namun, efek diuretik dari kafein berpotensi menyebabkan tubuh kehilangan cairan lebih cepat, sehingga risiko dehidrasi dapat meningkat, terutama ketika seseorang harus menahan haus dalam waktu lama.

Kondisi tersebut bisa berdampak pada penurunan stamina dan rasa lemas saat berpuasa.

Selain berpengaruh pada keseimbangan cairan tubuh, kafein juga memiliki efek stimulan yang dapat mengganggu pola tidur.

Konsumsi kopi atau teh pada waktu yang kurang tepat dikhawatirkan menghambat waktu istirahat, sehingga kualitas tidur selama Ramadan menjadi kurang optimal.

Ali juga menyoroti kebiasaan menambahkan gula dalam kopi atau teh. Menurutnya, asupan gula tambahan sebaiknya dibatasi agar tidak memicu masalah kesehatan selama puasa.

Begitu pula penggunaan susu dalam minuman tersebut, yang lebih berfungsi sebagai penambah cita rasa dan tidak menjadikan kandungan gizi susu sebagai unsur dominan.

“Campuran susu pada kopi atau teh bukan berarti menghilangkan gizinya, tetapi nilai gizi susu tidak lagi menjadi yang utama karena hanya sebagai pelengkap rasa,” jelasnya.

Sebagai alternatif, Ali menganjurkan masyarakat untuk memperbanyak konsumsi cairan lain yang lebih netral, terutama saat sahur dan berbuka puasa. Dengan begitu, risiko gangguan hidrasi maupun dampak lain dari kafein dapat diminimalkan selama menjalankan ibadah Ramadan.(*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#kopi #ramadan #kafein #guru besar #ipb