Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Capai 50 Ribu Kasus per Tahun, Penyakit Jantung Bawaan Pada Anak Jadi Perhatian Serius

Bihan Mokodompit • Sabtu, 28 Februari 2026 | 20:35 WIB

Ilustrasi penyakit Jantung pada anak
Ilustrasi penyakit Jantung pada anak

RADARTUBAN - Penyakit Jantung Bawaan Pada Anak kembali menjadi sorotan setelah angka kasusnya di Indonesia disebut mencapai sekitar 50 ribu temuan baru setiap tahun berdasarkan data Kementerian Kesehatan.

Kondisi tersebut dinilai memerlukan perhatian serius dari pemerintah pusat maupun daerah karena berdampak langsung terhadap kualitas generasi mendatang.

Anggota Komisi E DPRD Provinsi Jawa Timur, Puguh Wiji Pamungkas, menilai tingginya angka Penyakit Jantung Bawaan Pada Anak harus menjadi kewaspadaan bersama.

Ia menyebutkan bahwa persoalan ini bukan hanya tanggung jawab fasilitas kesehatan rujukan, tetapi juga memerlukan penguatan sistem kesehatan daerah.

Baca Juga: Sering Dianggap Jahat, 7 Makanan Ini Ternyata Bisa Cegah Penyakit Jantung

Prevalensi Tinggi, Perlu Evaluasi Menyeluruh

Berdasarkan statistik medis yang dirujuk dari Kementerian Kesehatan, terdapat 8 dari 1.000 kelahiran di Indonesia yang terdeteksi mengalami kelainan jantung sejak lahir.

Jika dihitung secara nasional, angka tersebut setara dengan sekitar 50 ribu kasus baru setiap tahun.

“Prevalensinya cukup tinggi. Bayangkan, dari 1.000 bayi yang lahir, ada 8 bayi yang didiagnosis PJB. Ini harus menjadi kewaspadaan nasional sekaligus bahan evaluasi bagi pemerintah, termasuk Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur,” ujar Puguh.

Data tersebut memperlihatkan bahwa Prevalensi PJB di Indonesia masih berada pada angka yang memprihatinkan.

Situasi ini mendorong DPRD Jawa Timur untuk meminta evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan promotif dan preventif di sektor kesehatan ibu dan anak.

Edukasi dan Skrining Dini Jadi Kunci

Legislator dari daerah pemilihan Malang Raya itu menegaskan bahwa penanganan Penyakit Jantung Bawaan Pada Anak tidak boleh hanya terfokus pada tindakan medis setelah bayi lahir.

Menurutnya, pendekatan hulu melalui edukasi kepada calon orang tua dan ibu hamil harus diperkuat secara sistematis.

Puguh meminta agar Dinas Kesehatan Jawa Timur memperluas program penyuluhan tentang faktor risiko kelainan jantung pada janin.

“Masyarakat harus diajak menjaga kesehatan secara menyeluruh. Edukasi kepada ibu hamil sangat penting agar meninggalkan kebiasaan yang memiliki faktor risiko tinggi terhadap PJB,” tegas politisi PKS tersebut.

Ia menjelaskan sejumlah faktor risiko yang patut diwaspadai, seperti infeksi TORCH, kebiasaan merokok, hingga pola hidup tidak sehat yang dapat memicu diabetes pada ibu hamil.

Upaya skrining dini dinilai penting agar Deteksi Dini PJB dapat dilakukan sebelum kondisi bayi memburuk.

Menurutnya, akses skrining tidak boleh hanya terpusat di kota besar, tetapi juga harus menjangkau wilayah pedesaan di Jawa Timur.

Dengan penguatan Deteksi Dini PJB, peluang penanganan medis segera setelah bayi lahir akan semakin besar.

Baca Juga: Ibunda Mimi Peri Meninggal Dunia Akibat Penyakit Jantung, Selebriti dan Penggemar Berikan Doa dan Dukungan

Kapasitas Layanan Masih Terbatas

Sementara itu, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono sebelumnya menyampaikan bahwa kasus kelainan jantung bawaan pada anak masih menjadi persoalan besar secara nasional.

Ia menyebut bahwa dari sekitar 50 ribu temuan setiap tahun, kapasitas layanan medis belum mampu mengakomodasi seluruh kebutuhan pasien.

“Di Indonesia kelainan jantung pada anak angkanya 8 dari 1.000 kelahiran. Yang terdeteksi ada sekitar 50 ribu, tetapi yang bisa ditangani hanya sekitar 5 ribu anak,” ujar Dante saat ditemui di RS Harapan Kita, Jakarta Barat, Jumat (7/2/).

Keterbatasan tersebut disebabkan antrean operasi yang panjang serta biaya tindakan medis yang relatif tinggi.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa persoalan Prevalensi PJB di Indonesia tidak hanya terkait jumlah kasus, tetapi juga kapasitas layanan kesehatan.

Penguatan rumah sakit rujukan dan pemerataan fasilitas menjadi kebutuhan mendesak agar Penyakit Jantung Bawaan Pada Anak dapat tertangani lebih optimal.

Puguh menegaskan target jangka panjangnya adalah menurunkan Prevalensi PJB di Indonesia melalui strategi preventif yang terukur.

“Target kita adalah menurunkan angka prevalensi ini. Pemerintah harus hadir memastikan ibu hamil di Jawa Timur mendapatkan edukasi dan akses kesehatan yang layak agar anak-anak lahir sebagai generasi yang sehat dan kuat,” pungkasnya.

Dorongan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa keberhasilan penanganan Penyakit Jantung Bawaan Pada Anak bergantung pada sinergi antara pemerintah pusat, daerah, serta masyarakat secara luas. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#skrining dini #edukasi #Penyakit Jantung Bawaan pada Anak #Indonesia #ibu hamil #dprd jatim