
RADARTUBAN - Dear, Mas Lindra. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Setelah cukup lama tidak menulis surat terbuka untuk panjenengan. Kali ini, izinkan saya menyampaikan pesan terbuka yang menjadi keresahan banyak orang tua melihat anak-anak semakin kehilangan attitude. Bicara kasar, tidak sopan, dan berperilaku tidak sewajarnya usia mereka.
Namun, sebelum jauh membahas soal keresahan tersebut, terlebih dahulu saya ucapkan selamat kepada Mas Lindra atas capaiannya dalam menurunkan angka kemiskinan di Kabupaten Tuban. Dari sebelumnya—setelah bertahun-tahun menjadi daerah termiskin nomor lima dari bawah, kini naik satu strip di posisi enam dari total 38 kabupaten/kota se-Jawa Timur. Meski hanya naik satu tingkat dari bawah, tapi tetap harus disyukuri dan diapresiasi. Sebab, menurunkan angka kemiskinan bukan hal mudah.
Dan melalui surat terbuka ini pula, saya ingin menyampaikan bahwa kemiskinan dan attitude anak memiliki keterkaitan yang sangat erat, bahkan seperti sepasang sisi mata uang. Karena itu, jika ingin menurunkan angka kemiskinan secara signifikan dan sustainable, maka solusinya adalah membentuk karakter anak sejak dini.
Selain orang tua yang bertanggung jawab atas karakter anak di lingkungan keluarga, cara paling efektif dalam membentuk karakter anak adalah melalui sistem atau kebijakan pendidikan. Sebab—tanpa mengurangi rasa hormat dan kepercayaan terhadap orang tua dalam mendidik anak, tapi tidak semua orang tua mampu melakukan itu, sehingga dibutuhkan intervensi dari pembiasaan di lingkungan sekolah.
Sebagai orang tua dan cukup concern di bidang pendidikan, serta melihat langsung perilaku anak dari warung kopi ke warung kopi, saya mengalami pola pendidikan karakter hari ini mulai tergerus oleh perkembangan teknologi, khususnya game dan media sosial.
Ya, memang tidak semua anak yang bermain game dan media sosial membawa dampak buruk terhadap karakter. Namun, dari angka 100 mungkin hanya dua-tiga anak saja yang mampu memanfaatkan game dan media sosial dengan baik—untuk pembelajaran atau menunjang kompetensi. Selebihnya, berdampak negatif terhadap gaya hidup dan pergaulan.
Bermain game, misalnya, yang paling tampak adalah soal attitude. Dari sekian banyak warung kopi yang pernah saya singgahi, hampir tidak ada anak yang bermain game tidak mengucapkan kata-kata kasar. Saking kasarnya, organ vital laki-laki dan perempuan pun turut disebut sambil teriak. Dan parahnya lagi, kadang masih mengenakan seragam dan sambil merokok.
Pun dengan media sosial, dampak buruknya juga tidak main-main. Dan yang paling tampak adalah perilaku dan gaya hidup. Kini, perilaku dan gaya hidup anak-anak usia sekolah tak lagi berdasar kebutuhan, melainkan keinginan. Dasarnya, preferensi. Apa yang dilihat di media sosial menjadi tuntutan dan tuntutan yang harus ditiru.
Contoh paling nyata adalah keinginan untuk sama dengan apa yang dilihat di media sosial. Ketika ponsel iPhone dianggap keren, maka keinginan itu harus dipenuhi. Tidak memandang anak dari keluarga kaya maupun miskin, bagaimana pun caranya harus punya. Sebab, akan malu jika ponselnya tidak standar pergaulan media sosial.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


