RADARTUBAN- ASA itu kembali bersemi. Persatu tidak jadi “mati”. Setelah bangkit segan, mati sayang, kini Persatu memiliki tuan baru.
Tepat 2 Oktober lalu, para pemegang saham PT Persatu Putra Tuban (perusahaan yang menaungi Persatu) resmi menyerahkan seluruh sahamnya kepada Eko Wahyudi.
Bos Timbul Persada yang juga anggota DPR RI itu menerima limpahan saham secara cuma-cuma. Nol rupiah, tapi dengan empat syarat.
Salah satunya—sekaligus yang paling penting dari tiga syarat lain, yakni Persatu akan menjadi milik Eko Wahyudi secara utuh apabila selama tiga tahun ke depan mampu membawa Laskar Ronggolawe—sebutan Persatu naik kasta dari Liga 4 ke Liga 3.
Ibarat judi, syarat keempat ini merupakan kesepakatan yang mengandalkan keberuntungan. Dadu dilempar. Kedua belah pihak sama-sama tidak memiliki kepastian hasil. Seperti bergantung pada kemungkinan atau peruntungan, namun pasti ada yang menang.
Bagi pemegang saham Persatu—yang sudah menyerahkan sahamnya kepada Eko Wahyudi, mungkin saat ini bisa lepas dari segala beban tuntutan dan tekanan suporter.
Pasalnya, kini mereka tidak perlu lagi memikirkan nasib Persatu. Setidaknya, selama tiga tahun ke depan tidak lagi pusing menanggung operasional Persatu. Beban itu sudah diserahkan sepenuhnya ke manajemen yang baru.
Namun, jika “perjudian” ini dimenangkan oleh Eko Wahyudi, maka para pemegang saham—yang terdiri dari politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu bakal kehilangan Persatu untuk selama-lamanya.
Dalam konteks bisnis, pengusaha cum politikus Partai Golkar yang karib disapa Kang Yudi itu mendapat tantangan untuk kembali menghidupkan perusahaan yang hampir pailit.
Dan jika dalam waktu tiga tahun berhasil, maka perusahaan itu menjadi haknya. Mutlak. Tapi jika syarat itu gagal diwujudkan, maka seluruh saham Persatu harus dikembalikan lagi ke tuan lamanya—para pemegang saham sebelumnya.
Pertanyaannya sekarang? Mampukah Eko Wahyudi yang tidak memiliki pengalaman dalam mengelola klub sepak bola membawa Persatu merekah dan naik kasta ke Liga 3 dalam waktu tiga tahun atau tiga musim ke depan?
Namun, sebelum membahas soal mampu dan tidak. Bagi saya, keputusan menerima “pinangan” dari para pemegang saham Persatu ini merupakan langkah yang sangat berani. Pasalnya, mengelola klub dengan kondisi yang terpuruk seperti Persatu bukan perkara mudah. Risiko finansialnya sangat besar.
Salah seorang mantan pengelola klub amatir, tepatnya Liga 3—mengungkapkan, dalam sekali main minimal merogoh kocek Rp 20 juta. Itu pun dengan status pemain apa adanya, tanpa training camp (TC) dan tanpa fasilitas mess untuk pemain.
“Kalau sudah serius mengikuti kompetisi, pemainnya profesional, bukan tarkaman, menyediakan fasilitas mess dan TC, ya minimal Rp 50 juta untuk sekali main. Itu belum termasuk yang lain-lain, seperti bonus untuk pemain dan kebutuhan lainnya di luar teknis. Bisa-bisa sampai Rp 70-80 juta,” katanya.
Praktis, dapat dibayangkan berapa biaya yang harus dikeluarkan jika targetnya lolos putaran nasional atau naik kasta.
“Untuk target lolos fase grup itu minimal Rp 250-300 juta. Kalau targetnya lolos putaran nasional dan promosi ke Liga 3, misalnya, hitungan saya Rp 4 miliaran, seperti Persatu dulu—saat menjuarai Liga Nusantara dan naik kasta Liga 2, bahkan lebih. Apalagi sekarang, mungkin Rp 5 miliaran,” ungkapnya lantas berseloroh, “Hanya orang ‘gila’ yang mau ngopeni bal-balan.”
Lebih berat lagi, sejak promosi ke Divisi Utama (Liga 2) pada 2014 dan menjadi klub profesional (di bawah naungan PT Persatu Putra Tuban)—dari sebelumnya klub amatir, Persatu tidak bisa lagi mengandalkan sokongan dana hibah dari pemerintah daerah.
Larangan itu termaktub dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 22 Tahun 2011. Disebutkan dalam regulasi tersebut, klub profesional dilarang menerima dana dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD).
Praktis, satu-satunya sumber pendanaan yang bisa diandalkan hanya dari sponsor dan dari pengurus itu sendiri. Dan semua paham, faktor politis membuat peluang dukungan dari sejumlah perusahaan di Kabupaten Tuban menjadi sulit.
Jika pun dapat—sokongan dana sponsor, sudah dapat dipastikan nominalnya sangat sedikit. Tidak sebanding dengan kebutuhan operasional klub yang mencapai miliaran.
Atas dasar kalkulasi biaya yang begitu besar dan dampak politik personal yang harus ditanggung sebagai politikus Partai Golkar (tahu sendiri siapa kompetitornya di Tuban).
Awalnya, saya pun tidak memprediksi—bahwa Eko Wahyudi bakal menerima pinangan Fahmi Fikroni, perwakilan pemegang saham PT Persatu Putra Tuban. Bahkan, kabar A1 yang saya terima, Kang Yudi sendiri tidak bersedia.
Namun, karena desakan suporter—yang berharap besar kepada Eko Wahyudi untuk menyelamatkan nasib Persatu, akhirnya menerima pinangan pemegang saham. Sebagai politikus yang memiliki kebebasan finansial, keputusan berat ini menjadi investasi jangka panjang.
Sebagaimana diketahui, tahun ini merupakan kesempatan terakhir Persatu untuk tetap ada dan diakui sebagai klub sepak bola anggota Asprov PSSI Jatim. Sebab, jika tahun ini kembali absen (dua tahun berturut-turut) mengikuti kompetisi resmi yang diselenggarakan PSSI, maka Persatu akan secara otomatis dibekukan.
Saatnya Memenangkan Permainan
Keputusan sudah diambil. Kini saatnya menerima tantangan atas dadu yang dilempar pemegang saham. Sebagai pebisnis, ketika keputusan sudah diambil, maka tidak ada kata mundur. Karakter seorang pebisnis adalah bertanggung jawab, berkomitmen, dan berani mengambil risiko yang telah diperhitungkan. Tegas dan tidak menyia-nyiakan waktu dengan keraguan. Pebisnis berpengalaman fokus pada solusi atas keputusan yang sudah diambil.
Sebagai gambaran—layaknya membangun ulang perusahaan. Setidaknya, ada tiga fase yang harus dilewati, dan itu genap tiga tahun. Yakni, fase tahun pertama, kedua, dan ketiga.
Pada fase pertama, terpenting dan paling utama adalah melakukan konsolidasi atau penguatan manajemen, serta membangun kekompakkan di internal. Setiap person dari bagian manajemen memiliki dedikasi tinggi.
Melepas segala kepentingan pribadi dan politik demi kepentingan bersama—membangun Persatu Tuban. Juga menyiapkan segala program jangka pendek dan panjang sejak tahun pertama. Sehingga ada tahapan dan target yang jelas. Hemat saya, waktu setahun cukuplah untuk menyiapkan itu semua.
Khusus untuk tahun kedua dibagi dalam dua fase, yakni setengah tahun pertama dan setengah tahun sisanya. Setengah tahun pertama adalah waktu melakukan evaluasi.
Di enam bulan pertama tahun kedua inilah, manajemen harus melakukan evaluasi secara total dan menyeluruh atas apa yang sudah dilakukan. Mana program yang sudah berjalan dan mana yang harus diperbaiki dan dikembangkan lagi. Pun mana yang harus dipertahankan dan mana-mana person yang harus dibuang karena tidak memiliki dedikasi.
Jelas bahwa di semester pertama tahun kedua inilah waktunya mengambil sikap tegas. Setelah itu, pematangan semua program—secara keseluruhan dilakukan pada semester kedua.
Selanjutnya, tahun ketiga adalah penyempurnaan. Penyempurnaan dari dua tahun sebelumnya. Dan di tahun ketiga inilah momen yang tepat untuk memenangkan permainan yang dilempar pemegang saham: membawa Persatu naik kasta dari Liga 4 ke Liga 3.
Sebagai pengusaha sukses dengan pengalaman manajerial yang begitu panjang. Bukan hal sulit bagi Eko Wahyudi dalam meramu ritme permainan. Menempatkan orang-orang sesuai kemampuan dan keahlian masing-masing.
Wabakdu, saya meyakini Kang Yudi mampu memenangkan “perjudian” ini. Persatu jadi milik Eko Wahyudi. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni