Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Kalau Lelah Mendarat Jangan Lupa Laut

radar tuban digital • Kamis, 5 Februari 2026 | 08:43 WIB
Opini ditulis: Salimulloh Tegar Sanubarianto, Warga Tuban yang kini jadi Peneliti Ahli Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN).
Opini ditulis: Salimulloh Tegar Sanubarianto, Warga Tuban yang kini jadi Peneliti Ahli Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN).

 

RADARTUBAN - Dulu saat masih kuliah, kawan saya dari daerah lain sering menginap di rumah saat ada libur panjang.

Di saat itu pula, kawan yang mayoritas orang Surabaya sering mengalami gegar budaya (shock culture) saat harus berinteraksi dengan orang rumah saya yang berbahasa Jawa dialek Tuban. Pernah suatu ketika kawan saya bertanya ke adik saya.

“Rumah kok sepi, Dik. Bapak ibu ke mana?” tanya salah satu kawan saya.

“Lagi mendarat, Mas,” jawab adik saya.

Bermula dari percakapan itu saya akhirnya harus bersusah-payah menjelaskan pada kawan saya bahwa saya betul-betul bukan dari keluarga militer dan orang tua saya bukan penerjun payung.   

Kata “mendarat” di kepala kawan saya tentu dimaknai dengan ‘turun ke darat (dari kapal atau pesawat)’ sesuai dengan makna Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Namun, sebagai orang Tuban tentu kita tahu bahwa “mendarat” di sini berarti turut membantu jika ada keluarga atau tetangga yang sedang punya hajatan.

Mendarat” adalah bukti bahwa pengaruh dialek Semarangan cukup mengakar kuat di antara masyarakat Tuban, terutama Tuban wilayah pesisir barat. Hal ini dibuktikan dengan persebaran kata “mendarat” yang tidak merata.

Masyarakat Tuban di wilayah timur, yang berbatasan dengan Lamongan, lebih lazim menggunakan rewang. Berbeda lagi dengan Tuban bagian selatan yang menyebutnya landang.

Istilah “mendarat” lazim digunakan oleh masyarakat Blora, Rembang, Jepara, dengan pusatnya di Semarang. Namun, tidak diketahui pasti etimologi dari istilah ini (Samidjan, 2013).

Berbeda dengan rewang yang memang berasal dari bahasa Jawa yang artinya ‘membantu’ dan landang yang medan maknanya dekat dengan tandang (bergotong-royong dalam bahasa Jawa).

Mendarat kemungkinan besar adalah bentukan bahasa Jawa asli dialek Semarang yang disepakati secara arbitrer menjadi sebuah kata kerja yang secara spesifik merujuk pada aktivitas gotong-royong dalam menyiapkan hajatan, para pelakunya pun disebut pendarat.

Kami, masyarakat Tuban dari segala golongan usia bisa berpartisipasi jadi pendarat tanpa harus masuk Angkatan Udara. Cukup bermodal tepo seliro dan niat cancut tali wondo.

Ada sebuah pendapat, mendarat atau ndarat tidak sepenuhnya arbitrer (manasuka). Istilah ini sengaja dimunculkan sebagai antonim (lawan kata) dari laut (Samidjan, 2013). Wilayah pesisir yang terpengaruh bahasa Jawa dialek Semarang menggunakan laut sebagai kata ajakan untuk beristirahat.

Di Tuban pun kerap menggunakan istilah laut untuk merujuk pada ‘istirahat’. Di kalangan pekerja konstruksi dan petani sering memekikkan, “Laut, laut! Wayahe laut!” saat matahari sudah tepat di atas kepala atau azan Zuhur berkumandang.

Pekikan itu merupakan ajakan untuk menghentikan pekerjaan, semacam seruan untuk istirahat makan siang, setara peluit wasit dalam pertandingan sepak bola.

Namun, berbeda dengan mendarat, istilah laut ini lebih jelas bobot-bebetnya. Laut yang berarti “istirahat” ini diserap dari bahasa Madura ‘laot’. Pada bahasa aslinya seruan laot juga diperuntukkan untuk hal yang sama.

Uniknya, laot dalam bahasa Madura secara spesifik sebenarnya bermakna istirahat/berteduh dari teriknya matahari siang (Dartiningsih, 2022). Itulah mengapa, laot hanya cocok digunakan pada situasi atau konteks tertentu.

Kita tidak bisa dengan semena-mena mengganti seruan “istirahat di tempat” dengan “laot di tempat”.  Begitu juga halnya kita tidak bisa mengganti slogan Pak Jokowi “kerja, kerja, kerja” menjadi “ndarat, ndarat, ndarat”.

 Laot inilah yang turut diserap oleh masyarakat Tuban menjadi laut. Istilah ini kemudian terspesialisasi, yang paling sering menggunakan adalah sesama tukang bangunan atau petani karena mungkin penggunaannya sesuai dengan konteks makna aslinya.

Pekerja yang area kerjanya langsung terpapar sinar matahari-lah yang sesuai menggunakan istilah laut. Satpam shift malam dan biduan dangdut kurang pas meneriakkan “Laut, laut! Wayahe laut!” kalau mau istirahat.

Ada “teori” menarik tentang dua kata mendarat dan laut ini dari sudut pandang kemaritiman. Ndilalah, dari demografi geografis penuturnya, mendarat dan laut berkaitan erat dengan angin darat dan angin laut. Angin darat dan angin laut adalah fenomena alam harian karena perbedaan tekanan udara di laut dan di darat (Muthi’ah dkk., 2025).

Saat malam hari, daratan lebih dingin dibanding lautan sehingga angin mengalir dari darat ke laut. Nelayan pun berangkat dinas mencari ikan memanfaatkan angin darat, lalu pada siang hari proses sebaliknya terjadi, nelayan pun pulang untuk beristirahat memanfaatkan angin laut.

Sekali lagi, “darat” muncul untuk mewakili konsep bekerja, lalu “laut” juga muncul untuk mewakili konsep beristirahat.

Namun, sekali lagi, teori ini hanya (kalau mengambil istilah orang Jawa) gothak-gathuk mathuk, upaya mengait-kaitkan yang kebetulan pas.

Terlepas dari itu semua, saya jadi tersadar jika memang konsep darat-laut memang begitu adanya, maka kita punya konsep hidup di dua alam. Kita pada dasarnya amfibi. (*)

REFERENSI: 

Dartiningsih, B. E. (2022). Budaya dan Masyarakat Madura. Surabaya: Penerbit Adab.

Muthi'ah, L., Admoko, S., Krisanti, G. D., Mahfudloh, D. A., & Damarsha, A. B. (2025). Konsep Fisika Perpindahan Panas dalam Kearifan Lokal Miyang Tuban. Experiment: Journal of Science Education5(2), 30-39.

Samidjan, Hartono (2013). Halah Pokokmen: Kupas Tuntas Dialek Semarangan. Semarang: Mimbar Media

Zaidan, A. N. (2024). Tradisi Rewang, Upaya Pelestarian Budaya Gotong Royong Pada Masyarakat Suku Jawa Dalam Menyambut Hajatan. International Waqaf Ilmu Nusantara Library30(1).

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #laut #bahasa jawa #pesisir