Jangan Asal Memvalidasi Perasaan, Kenali Batas antara Emosi dan Perilaku


RADARTUBAN - Validasi emosi menjadi salah satu kebutuhan manusia untuk memahami perasaan sekaligus membangun hubungan yang sehat dengan orang lain.
Namun, terlalu jarang mendapat validasi maupun menerimanya secara berlebihan ternyata dapat membawa dampak negatif bagi perkembangan diri.
Hal tersebut dibahas oleh dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ, dalam podcast Ruang Tunggu bertajuk Validasi: Kenapa Kelebihan atau Kekurangan Sama Bahayanya?
Baca Juga: Selalu Jadi Tempat Curhat Bisa Menguras Emosi, Ini Cara Mengenali Emotional Caretaking
Dia menjelaskan bahwa validasi memang diperlukan, tetapi harus disertai refleksi agar tidak justru menjadi penghambat pertumbuhan seseorang.
Menurut dr. Andreas, manusia membutuhkan validasi untuk mengenali lingkungan dan memastikan apakah respons yang diberikan sudah sesuai. Kebutuhan tersebut bahkan mulai terbentuk sejak masa kanak-kanak.
Ketika tumbuh di lingkungan yang jarang memberikan pengakuan atau justru sering mengabaikan perasaan anak, seseorang dapat berusaha lebih keras untuk mendapatkan penerimaan. Kebiasaan itu berpotensi terbawa hingga dewasa.
Salah satu bentuknya adalah kebiasaan fishing for compliments, yakni terus mencari pujian atau pengakuan dari orang lain.
Meski telah memperoleh apresiasi, seseorang bisa tetap merasa kurang dan sulit merasa puas.
Selain itu, anak yang terbiasa dilarang mengekspresikan emosi dasar, seperti sedih dan marah, dapat belajar menekan perasaannya demi memperoleh rasa aman.
Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan tersebut berpotensi mengganggu kemampuan seseorang dalam mengenali emosi dan membangun hubungan yang sehat ketika dewasa.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




