Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Jangan Asal Memvalidasi Perasaan, Kenali Batas antara Emosi dan Perilaku

Shafa Dina Hayuning Mentari
ilustrasi seseorang yang tengah mendengarkan curahan hati. (unsplash.com/ vitaly gariev)
ilustrasi seseorang yang tengah mendengarkan curahan hati. (unsplash.com/ vitaly gariev)

Advertisement

RADARTUBAN - Validasi emosi menjadi salah satu kebutuhan manusia untuk memahami perasaan sekaligus membangun hubungan yang sehat dengan orang lain.

Namun, terlalu jarang mendapat validasi maupun menerimanya secara berlebihan ternyata dapat membawa dampak negatif bagi perkembangan diri.

Hal tersebut dibahas oleh dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ, dalam podcast Ruang Tunggu bertajuk Validasi: Kenapa Kelebihan atau Kekurangan Sama Bahayanya?

Dia menjelaskan bahwa validasi memang diperlukan, tetapi harus disertai refleksi agar tidak justru menjadi penghambat pertumbuhan seseorang.

Menurut dr. Andreas, manusia membutuhkan validasi untuk mengenali lingkungan dan memastikan apakah respons yang diberikan sudah sesuai. Kebutuhan tersebut bahkan mulai terbentuk sejak masa kanak-kanak.

Advertisement

Ketika tumbuh di lingkungan yang jarang memberikan pengakuan atau justru sering mengabaikan perasaan anak, seseorang dapat berusaha lebih keras untuk mendapatkan penerimaan. Kebiasaan itu berpotensi terbawa hingga dewasa.

Salah satu bentuknya adalah kebiasaan fishing for compliments, yakni terus mencari pujian atau pengakuan dari orang lain.

Meski telah memperoleh apresiasi, seseorang bisa tetap merasa kurang dan sulit merasa puas.

Selain itu, anak yang terbiasa dilarang mengekspresikan emosi dasar, seperti sedih dan marah, dapat belajar menekan perasaannya demi memperoleh rasa aman.

Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan tersebut berpotensi mengganggu kemampuan seseorang dalam mengenali emosi dan membangun hubungan yang sehat ketika dewasa.

Advertisement
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar TubanIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

80 Persen Masalah Bisnis Disebut Berasal dari Owner, Coach Tom Soroti Mentalitas Pengusaha

80 Persen Masalah Bisnis Disebut Berasal dari Owner, Coach Tom Soroti Mentalitas Pengusaha

Bisnis sulit berkembang jika bergantung pada owner. Coach Tom menjelaskan pentingnya evaluasi diri dan sistem kerja yang efektif.

Bukan Hanya Pekerjaan, Ekspektasi Orang Lain Bisa Menguras Mental, Ini Saran Psikolog

Bukan Hanya Pekerjaan, Ekspektasi Orang Lain Bisa Menguras Mental, Ini Saran Psikolog

Psikolog Widyaningrum membahas tekanan sosial, beban kerja, dan tiga langkah menghadapi fase kehilangan arah hidup.

Fatherless Bukan Sekadar Ayah Tak Hadir, Kekosongan Emosional Bisa Berdampak pada Mental Anak

Fatherless Bukan Sekadar Ayah Tak Hadir, Kekosongan Emosional Bisa Berdampak pada Mental Anak

Fenomena fatherless bukan sekadar ayah yang tidak ada secara fisik. Minimnya keterlibatan emosional juga dapat memengaruhi psikologis anak.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer