RADARTUBAN - Setiap tanggal 10 Oktober, diperingati sebagai World Mental Health Day. Tahun ini, peringatan hari tersebut mengusung tema tentang kesehatan mental masyarakat di tempat kerja.
Tema ini memiliki fokus terhadap pentingnya menangani kesehatan mental individu, masyarakat, dan organisasi di lingkungan kerja. Baik akibat tuntutan pekerjaan berlebih, atau nasib buruh yang jauh dari kata sejahtera.
Dilansir dari laman mentalhealth.org.uk, tema tersebut dipilih oleh WFMH (World Federation of Mental Health) karena terdapat survei yang mengungkap, ratusan ribu pekerja di Inggris mengalami tekanan emosional di tempat kerja.
"Pada tahun 2022/2023, diperkirakan ada sebanyak 875 ribu pekerja yang menderita stres, depresi, atau kecemasan terkait pekerjaan," dikutip Radar Tuban, Rabu (9/10).
Kondisi ini tentunya tidak hanya berdampak pada karyawan, perusahaan pun ikut terkena imbasnya. Krisis kesehatan mental tersebut jadi alasan paling banyak dipakai untuk izin cuti para pekerja di Inggris.
"Alasan ke-5 yang paling sering diberikan untuk ketidakhadiran karena sakit, mencakup 7,9 persen kejadian," dikutip dari website mentalhealth.org.uk.
Disampaikan, buruknya kesejahteraan mental pekerja membuat para pengusaha di Inggris harus menelan kerugian hingga miliaran poundsterling di setiap tahunnya. Terbanyak mencapai £45 miliar, akibat ketidakhadiran karena sakit, dan pergantian staf.
Melalui Hari Kesehatan Mental Sedunia, sepatutnya pengusaha seluruh dunia mulai memperhatikan kesejahteraan mental pekerja. Mengingat bahwa kesehatan jiwa para pekerja adalah aset paling mahal.
"Penelitian terbaru menemukan bahwa, rata-rata perusahaan mendapatkan (timbal balik) sebesar £5 untuk setiap £1 yang diinvestasikan untuk intervensi kesehatan mental di tempat kerja," katanya. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama