Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Sering Diajak Ngabuburit Tapi Gak Paham Artinya ? Ternyata Ini Artinya Ngabuburit

Bihan Mokodompit • Rabu, 12 Maret 2025 | 21:54 WIB
Asal-usul nama Ngabuburit
Asal-usul nama Ngabuburit

RADARTUBAN - Istilah ngabuburit sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia, terutama saat Ramadan.

Kegiatan ini mengacu pada aktivitas yang dilakukan untuk mengisi waktu sebelum berbuka puasa dengan berbagai kegiatan yang menyenangkan dan bermanfaat.

Namun, tahukah Anda dari mana asal istilah ngabuburit dan bagaimana perkembangannya di Indonesia? Berikut penjelasan mengenai sejarah dan tradisi ngabuburit yang telah menjadi bagian dari budaya Ramadan di berbagai daerah.

 

Ngabuburit berasal dari bahasa Sunda, tepatnya dari kata burit, yang berarti sore atau petang.

Dalam tata bahasa Sunda, kata keterangan waktu seperti burit bisa berubah menjadi kata kerja dengan menambahkan awalan nga-, sehingga terbentuklah kata ngabuburit, yang berarti melakukan suatu kegiatan sembari menunggu waktu petang.

Menurut Kamus Bahasa Sunda yang disusun oleh Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda (LBSS), istilah ngabuburit berasal dari frasa ngalantung ngadagoan burit, yang memiliki arti bersantai sambil menanti waktu sore.

Sementara itu, Kamus Sunda-Indonesia yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada 1985 mencatat bahwa burit berarti senja.

Sedangkan ngabuburit mengacu pada kegiatan berjalan-jalan atau melakukan aktivitas lain guna mengisi waktu hingga petang, khususnya saat Ramadan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah ngabuburit sudah resmi masuk dengan definisi sebagai kegiatan menunggu waktu berbuka puasa menjelang azan magrib selama bulan Ramadan.

Istilah ngabuburit mulai dikenal luas seiring masuknya Islam ke wilayah Sunda. Tradisi ini berkembang pesat pada era 1980-an, terutama di Bandung, di mana para pemuda mulai mengadakan acara musik bernuansa Islami untuk mengisi waktu menjelang berbuka.

Popularitas kegiatan ini kemudian menyebar ke berbagai daerah di Indonesia.

Meskipun awalnya berasal dari bahasa Sunda, istilah ngabuburit kini digunakan secara luas oleh masyarakat dari berbagai latar belakang budaya.

Penyebaran istilah ini tidak terlepas dari peran media massa serta kemudahan pengucapannya oleh penutur non-Sunda.

Namun, di beberapa daerah, masyarakat memiliki istilah khas masing-masing untuk menyebut kegiatan menunggu waktu berbuka, antara lain:

• Minangkabau: Malengah puaso, yang berarti melakukan aktivitas untuk mengalihkan perhatian dari rasa haus dan lapar selama berpuasa.
• Kalimantan Selatan (suku Banjar): Basambang, yang berarti berjalan-jalan saat senja.
• Madura: Nyarè malem, yang berarti mencari malam, dan nyarè bhuka’an, yang berarti mencari makanan untuk berbuka puasa.

Meski memiliki istilah yang berbeda, makna dan tujuan tetap sama, yakni mengisi waktu sebelum berbuka dengan kegiatan yang menyenangkan dan bermanfaat.

Seiring berkembangnya zaman, aktivitas ngabuburit pun mengalami perubahan. Saat ini, kegiatan ngabuburit sangat beragam, tergantung pada daerah dan kebiasaan masyarakat setempat. Berikut beberapa aktivitas ngabuburit yang umum dilakukan di Indonesia:

1. Berburu Takjil
Banyak orang memanfaatkan waktu ngabuburit dengan berburu takjil, baik dengan mengunjungi pasar Ramadan, berkeliling kota, atau mencari takjil gratis yang dibagikan oleh komunitas atau masjid.

2. Kegiatan Keagamaan
Membaca Al-Qur'an, mengikuti pesantren kilat, mendengarkan ceramah agama, atau mengikuti kegiatan keagamaan lainnya juga menjadi pilihan populer saat ngabuburit.

3. Berkumpul dengan Teman dan Keluarga
Menghabiskan waktu bersama teman dan keluarga sambil menunggu waktu berbuka menjadi salah satu bentuk ngabuburit yang paling digemari.

4. Wisata Kuliner
Mengunjungi pasar Ramadan atau pusat kuliner juga menjadi aktivitas ngabuburit yang menarik. Berbagai hidangan khas berbuka puasa, baik tradisional maupun modern, tersedia untuk dinikmati.

 

Beberapa daerah di Indonesia memiliki tradisi ngabuburit yang khas dan unik, seperti:

• Tradisi Kumbohan di bantaran Bengawan Solo, di mana masyarakat berburu ikan mabuk.
• Balap perahu layar mini di Pantai Kenjeran, Surabaya.
• Tradisi Bleguran di Betawi.
• Panjat tebing di Madiun.

 

Dengan berbagai kegiatan yang dilakukan, ngabuburit bukan hanya sekadar mengisi waktu hingga azan magrib saja.

Tetapi juga menjadi bagian dari budaya yang mempererat kebersamaan dan memperkaya pengalaman spiritual selama Ramadan.

Seiring berkembangnya tren dan kebiasaan masyarakat, tradisi ngabuburit terus beradaptasi dengan zaman.

Meski terus beradaptasi dengan zaman, namun tidak meninggalkan esensi utamanya sebagai momen kebersamaan dan refleksi di bulan yang penuh berkah ini. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#ngabuburit #berbuka puasa #ramadan #Indonesia #budaya #sunda