RADARTUBAN- Konon, banyak pasangan berawal dari pertemanan. Dari yang tadinya cuma sekadar menyapa, “Piye, Buos?” berubah jadi, “Gimana, Yang?” dengan nada manja. Dari yang katanya “cuma temen biasa,” tahu-tahu sudah pesan cincin tunangan.
Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Di Jawa ada pepatah klasik: tresno jalaran soko kulino—cinta tumbuh karena terbiasa.
Ilmuwan modern menyebutnya mere exposure effect, atau efek keterpaparan berulang.
Dalam istilah anak muda sekarang, relasi semacam ini sering dijuluki slow burn: lambat, tapi panasnya lama. Tidak meledak-ledak seperti cinta pandangan pertama, tapi justru sering lebih tahan uji waktu.
Data juga mendukung. Sekitar 60% pasangan mengaku memulai hubungan mereka dari pertemanan. Awalnya biasa saja—bercanda, bertukar cerita, saling bantu ngerjain tugas, atau pulang bareng habis rapat organisasi.
Tapi tanpa disadari, interaksi yang terus-menerus itu menumbuhkan kenyamanan. Dari kenyamanan, lahir rasa ingin menjaga. Dari sana, lahirlah rasa suka.
Biasanya, gejalanya dimulai dari kalimat-kalimat kecil yang cuma berani diucapkan dalam hati: “Cakep juga ya kalau dilihat-lihat.” atau, “Kok kalau senyum nagih banget sih.”
Lalu mulailah momen-momen halu menjelang tidur, memikirkan kemungkinan yang belum tentu terjadi.
Tentu saja, cinta model ini punya kelebihan. Karena berawal dari pertemanan, biasanya pasangan sudah saling kenal luar dalam.
Sudah tahu sifat aslinya, kebiasaan kecilnya, bahkan keanehan-keanehan yang tak tampak di pertemuan pertama. Mereka tidak hanya saling tertarik, tapi juga sudah saling paham.
Namun, justru karena terlalu dekat, seringkali rasa itu tidak disadari. Kadang, butuh momen besar untuk menyadari bahwa ternyata rasa itu sudah lama ada.
Sayangnya, tak sedikit juga yang akhirnya menyesal karena tidak berani mengungkapkan lebih awal.
Maka dari itu, tidak ada salahnya lebih jeli melihat sekitar. Bisa jadi, orang yang selama ini menemani, mendengarkan cerita, bahkan sekadar mengingatkan makan, sebenarnya adalah orang yang dipilih semesta untukmu.
Bisa jadi jodohmu bukan datang dari dunia lain, tapi dari grup WhatsApp yang sama.
Cinta tidak selalu hadir dalam bentuk dramatis. Kadang ia datang pelan, lewat obrolan santai, lewat tawa yang dibagi di sela lelah, atau lewat perhatian kecil yang awalnya tidak berarti.
Hati-hati, jangan-jangan jodohmu temen sekelas, sekampus, atau seperjuangan hidup.
Karena cinta yang tumbuh dari pertemanan bukanlah cinta yang muncul tiba-tiba, tapi cinta yang dibangun dari keakraban dan waktu. Dan barangkali, itu yang paling kokoh. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni