RADARTUBAN- “Sejak pertama melihatnya, aku sudah mencintainya.”
Cielahhh.
Kalimat yang sering kita dengar di novel, film, atau pengakuan teman yang tiba-tiba mendadak mellow habis lihat seseorang lewat depan masjid.
Padahal baru ketemu sekali. Baru disapa hai aja udah mikir nanti nikahnya pake adat Jawa atau Minang. Belum apa-apa, sudah riset WO dan hunting gedung resepsi.
Kisah cinta pandangan pertama memang selalu aja bikin geli kaligus nggumun. Geli karena kadang absurd, nggumun karena kuat banget efeknya.
Kadang cuma kepencet like di Instagram story aja, udah cenat-cenut kayak kena petir.
Yang kesenggol pundaknya siapa, yang deg-degan sampai seminggu siapa. Morgan SMASH aja nggak punya ekspektasi seheboh itu.
Fenomena ini bisa dibilang sebagai “penawanan brutal”. Hanya dari satu kali lihat, seseorang bisa menguasai ruang dalam kepala dan hati kita.
Mata yang tadinya cuma alat penglihatan, seketika berubah jadi sumber hasrat. Gairah bisa muncul dari cara dia jalan, potongan rambutnya, bahkan dari caranya ngomong “makasih” di kasir Indomaret.
“Cinta pada pandangan pertama” sesuai namanya, memang langsung muncul begitu saja. Nggak nunggu kenalan lama, nggak perlu tahu tanggal lahir atau zodiak.
Yang penting hati bilang “duaarrrr!”, maka dunia serasa berubah. Bahkan banyak yang bilang, cinta macam ini nggak butuh logika, yang penting rasa.
Masalahnya, rasa bisa sangat menipu. Apalagi kalau kita sedang dalam kondisi kesepian akut.
Kadang kita nggak benar-benar jatuh cinta sama orang itu, tapi jatuh cinta pada atensi kecil yang dia berikan. Satu like bisa terasa seperti pelukan, padahal bisa jadi itu cuma jempol nyasar.
Tapi ya gimana, namanya juga manusia. Kita ini makhluk yang gampang terbawa suasana. Kadang cuma gara-gara lihat senyum seseorang pas antre bakso, kita udah ngayal hidup bareng dan punya anak tiga.
Yang lebih lucu, cinta pandangan pertama seringkali hanya muncul sekali… dan hilang juga hanya dalam sekali pandang.
Ketika kita akhirnya ngobrol beneran, tahu kepribadiannya, atau bahkan kenal lebih dekat, bisa jadi perasaan itu langsung ambyar. Lha, ternyata dia tim bubur diaduk.
Tapi jangan salah, nggak sedikit juga yang kisah cintanya memang dimulai dari pandangan pertama.
Ada yang lanjut sampai nikah, bahkan sampai punya cucu. Artinya, cinta pandangan pertama itu bukan omong kosong, hanya saja tidak bisa dijadikan satu-satunya dasar.
Maka, nikmatilah cinta pandangan pertama seperti menikmati teh panas di sore hari: hangat, menggoda, tapi jangan langsung diminum. Bisa-bisa lidah melepuh.
Toh, cinta sejati tidak hanya soal siapa yang membuat jantung berdetak lebih cepat, tapi siapa yang tetap bertahan meski detaknya kadang melambat.
Jadi, silakan cenat-cenut kalau pundaknya kesenggol. Tapi jangan buru-buru survei WO ya, siapa tahu dia cuma nyenggol karena mau lewat doang. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni