RADARTUBAN - Siapa yang tidak kenal micin atau monosodium glutamat (MSG).
Penyedap rasa yang sering dianggap kontroversial ini mendapat penjelasan tuntas dari sisi kesehatan dalam sebuah podcast.
Melalui kanal YouTube Raditya Dika pada Selasa (22/10/24) bersama dr. Tirta Mandira Hudhi yang merupakan dokter umum, influencer sekaligus aktivis kesehatan membahas tentang mitos dan fakta kesehatan sehari-hari.
Micin sejatinya adalah monosodium glutamat, berasal dari komponen asam amino non-esensial glutamat yang juga ditemukan secara alami pada bahan seperti jamur dan tetes tebu.
Rasa gurih atau umami yang dihasilkan MSG membuat makanan lebih lezat tanpa menimbulkan efek negatif bila dikonsumsi dalam batas wajar.
Penelitian yang mengaitkan MSG dengan penurunan fungsi otak hanya dilakukan pada hewan dengan dosis sangat tinggi dan metode yang tidak relevan dengan konsumsi manusia sehari-hari.
Jika dikonsumsi secara wajar, MSG tidak menyebabkan penurunan kognitif atau "membuat bodoh" seperti anggapan umum.
Efek samping yang mungkin muncul adalah hipertensi dan sindrom metabolik, yang juga dapat disebabkan oleh asupan natrium berlebih, termasuk dari garam dapur.
“Selama dikonsumsi dalam batas wajar, micin tidak menimbulkan efek negatif bagi tubuh kamu dan tidak membuat bodoh, itu mitos,” jelas dr. Tirta.
Asupan maksimal yang dianjurkan adalah sekitar 30 miligram per kilogram berat badan per hari, yang secara realistis sulit terlampaui hanya melalui konsumsi makanan sehari-hari.
Dibanding MSG, konsumsi garam yang tinggi secara umum jauh lebih berisiko memicu hipertensi.
Mitos lain yang dibantah adalah anggapan konsumsi bawang menyebabkan bau badan berlebihan.
Faktanya, bau badan disebabkan oleh faktor metabolisme tubuh dan bakteri yang berkembang pada kelenjar keringat, bukan dari konsumsi bawang itu sendiri.
Dalam hal olahraga dan kesehatan jantung, risiko serangan jantung sering muncul pada mereka yang tiba-tiba melakukan aktivitas fisik berat tanpa pembiasaan rutin sejak muda.
Disarankan latihan yang konsisten sejak dini guna menjaga kesehatan pembuluh darah dan jantung.
Kondisi stres kerja dan kurang tidur juga menjadi faktor risiko tambahan masalah kardiovaskular.
Selain itu, mitos-mitos lain seputar kesehatan, seperti air es menyebabkan gemuk atau tidur di lantai menyebabkan paru-paru basah, merupakan pandangan yang keliru dan tidak didukung oleh ilmu kedokteran.
Penting untuk menjaga pola makan seimbang, mengontrol asupan gula, garam, dan MSG dalam batas wajar, serta hidup sehat agar manfaat makanan dapat maksimal tanpa risiko kesehatan.
Dokter Tirta juga menyemangati agar masyarakat tidak mudah percaya pada informasi tanpa dasar ilmiah dan selalu mencari fakta yang valid. (*/tia)
Editor : radar tuban digital