RADARTUBAN - Belakangan ini, tren menutup atau melakban mulut saat tidur menjadi perhatian setelah viral di media sosial.
Praktik yang dikenal sebagai "mouth taping" ini bertujuan agar seseorang bernapas melalui hidung selama tidur, yang dianggap dapat meningkatkan kualitas tidur dan mencegah berbagai masalah pernapasan.
Namun, para ahli kesehatan memberi peringatan keras tentang risiko melakban mulut saat tidur.
Melansir dari Kompas.com studi terbaru mengungkap bahwa tren ini dapat berbahaya jika dilakukan tanpa pengawasan medis.
Ahli otolaringologi, Brian Rotenberg dari London Health Science Centre menjelaskan bahwa menutup mulut saat tidur justru berpotensi memperburuk kondisi medis seperti sleep apnea, yaitu gangguan di mana pernapasan berhenti berulang kali saat tidur.
Selain risiko kesehatan yang serius, penggunaan plester pada mulut saat tidur juga dapat menyebabkan iritasi kulit di sekitar bibir serta gangguan tidur seperti insomnia.
Tekanan pada sistem pernapasan akibat penutupan mulut dapat memicu sesak napas dan menambah risiko gangguan tidur yang sudah ada.
Sementara teknik ini awalnya dikembangkan oleh ahli fisiologi yang berasal dari Soviet, Konstantin Buteyko, pada tahun 1940-an untuk terapi asma.
Namun, bukti manfaat dari praktik menutup mulut masih sangat minim dan kompleks.
Hingga kini, metode tersebut belum terbukti secara ilmiah dapat memperbaiki kualitas tidur secara signifikan maupun mengatasi masalah pernapasan.
Dokter spesialis THT menyarankan agar masyarakat tidak sembarangan mengikuti tren ini, terutama tanpa konsultasi medis.
Pernapasan melalui hidung memang ideal, tetapi bagi beberapa orang dengan sumbatan saluran napas hidung, mulut tetap menjadi jalur penting untuk mendapatkan oksigen.
Masyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati dan tidak terpengaruh oleh tren yang belum jelas manfaat dan risikonya demi menjaga kesehatan tidur dan pernapasan. (*/tia)
Editor : radar tuban digital