RADARTUBAN - Skizofrenia adalah gangguan mental serius yang memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, dan bertindak.
Kondisi ini bukan sekadar masalah suasana hati biasa, melainkan penyakit yang dapat menyebabkan gejala intens seperti halusinasi (mendengar atau melihat sesuatu yang tidak ada) dan delusi (keyakinan salah, misalnya merasa selalu dikelilingi pencuri).
Andrew, yang membantu merawat temannya dengan skizofrenia, membagikan pengalaman pribadinya melalui podcast kanal YouTube Yuvi Phan pada Jumat (29/3).
Kisahnya menjadi pengingat bahwa skizofrenia tidak bisa sembuh instan, melainkan memerlukan proses yang panjang dan penuh kesabaran.
Dampaknya sangat besar, membuat penderitanya sulit berkonsentrasi, cenderung mengisolasi diri, dan mengalami gangguan pola tidur.
Pada tahap awal, gejala halusinasi dan delusi bisa sangat menguasai penderita, contohnya seperti merasa dikelilingi oleh pencuri atau membawa barang berharga yang sebenarnya tidak ada.
“Awal-awal dia bener-bener kayak gila. Bisa teriak-teriak, terus bilang aku dikelilingi pencuri, padahal enggak ada siapa-siapa,” kenang Andrew, menggambarkan betapa intensnya gejala yang dialami temannya pada masa awal.
Seiring waktu, dengan pengobatan psikiatrik yang tepat, kondisi dapat membaik secara perlahan.
Proses pengobatan berlangsung selama bertahun-tahun, biasanya dengan pengaturan dosis obat yang pelan-pelan dikurangi oleh psikiater agar tidak menimbulkan gejala penarikan yang serius.
Penanganan ini tidak hanya melibatkan obat, tetapi juga harus didukung dengan lingkungan yang penuh pengertian dan perhatian.
Pentingnya dukungan sosial ditekankan dalam perjalanan kesembuhan skizofrenia. Lingkungan yang suportif seperti keluarga, teman, atau komunitas spiritual dapat memberikan kekuatan emosional yang dibutuhkan untuk bertahan dalam masa sulit.
Kunci lainnya adalah menghindari mitos yang masih melekat pada penderita skizofrenia agar mereka tidak merasa terisolasi atau bahkan dikucilkan.
Selain pengobatan medis, aspek perawatan diri (self-care), termasuk menjaga kebersihan diri dan kesehatan mental, sangat disarankan.
Penderita harus diajak secara perlahan untuk kembali melakukan aktivitas sehari-hari yang positif dan membangun rasa percaya diri.
“Dengan pengobatan yang tepat dan dukungan yang kuat, penderita skizofrenia dapat kembali normal dan berangsur pulih,” jelas Andrew.
Kisah ini membuka pemahaman bahwa penyakit mental (mental illness) bukan aib dan penanganan tepat memungkinkan seseorang untuk menjalani kehidupan yang bermakna. Kesehatan mental adalah hal terpenting dalam hidup.
Ketika muncul gangguan mental, jangan ragu untuk mencari pertolongan dari profesional yang tepat, seperti psikiater.
Bahkan dalam perjuangan berat, tetap perlu dijaga rasa kemanusiaan dan kasih sayang, serta tidak berhenti berharap pada kesembuhan.
Hal ini menjadi pengingat kritis agar masyarakat dapat lebih memahami dan mendukung penderita skizofrenia dengan penuh empati dan kesabaran, menghapus pemikiran negatif, serta mengedepankan peran profesional dalam perawatan untuk hasil terbaik. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni