RADARTUBAN — Wayang Kulit kembali mencuat sebagai topik penting ketika perbincangan mengenai identitas serta daya tahan budaya lokal mengemuka.
Di tengah derasnya arus budaya populer, kesenian Wayang Kulit disebut sebagai elemen penting untuk menjaga identitas bangsa dan memperkuat pijakan masyarakat terhadap akar tradisinya.
Tradisi yang Mengabarkan Identitas di Era Modern
Pernyataan tegas mengenai posisi Wayang Kulit sebagai warisan budaya disampaikan Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur, Sri Untari, saat membuka pagelaran bertema “Meruwat Jawa Timur, Merawat Indonesia” di Surabaya.
Dia mengingatkan bahwa kesenian tradisional tersebut bukan sekadar pertunjukan.
Melainkan bagian dari konstruksi identitas bangsa yang sejak lama menyatu dalam kehidupan masyarakat Nusantara.
“Wayang bukan hanya tontonan, tetapi juga tuntunan. Dia menjadi role model yang memuat cerita-cerita luhur dari Mahabarata dan Ramayana,” ujarnya dalam sambutan.
Kutipan itu menunjukkan betapa kuatnya nilai edukatif Wayang Kulit sebagai media yang menanamkan etika serta kebijaksanaan.
Penanda Warisan yang Mengakar Sejak Masa Kerajaan
Sri Untari menekankan bahwa berbagai kajian akademik menyebut Wayang Kulit sebagai warisan budaya yang berasal dari tanah Jawa, bukan tiruan atau adopsi dari negara lain.
“Wayang kulit ini warisan budaya Nusantara dari tanah Jawa,” tegasnya.
Pernyataan tersebut merujuk temuan historis mengenai relief dan lakon wayang yang terpahat di sejumlah situs tua, termasuk Candi Penataran, wilayah Kahuripan, hingga peninggalan Medang.
Rangkaian bukti itu menguatkan argumen bahwa Wayang Kulit merupakan bagian otentik dari budaya Jawa yang terus mengalami pelestarian lintas generasi.
Dalam konteks identitas bangsa, keberadaan artefak-artefak tersebut juga menunjukkan bahwa tradisi lokal ini bukan produk pinjaman dari India, Eropa, atau Asia Tenggara lainnya.
Wayang, Adaptasi Agama, dan Ruang Dialog Budaya
Pengaruh Wali Songo, terutama Sunan Kalijaga, menjadi penanda penting bagaimana budaya Jawa beradaptasi dengan perkembangan agama tanpa kehilangan akar tradisinya.
Melalui proses akulturasi yang lembut, wayang digunakan sebagai media dakwah yang memadukan simbol-simbol lama dengan ajaran Islam.
Dalam Mahabarata, misalnya, Jamus Kalimosodo dipahami sebagai representasi dua kalimat syahadat, bentuk harmonisasi budaya yang relevan hingga kini.
Konteks ini menegaskan kembali posisi Wayang Kulit bukan hanya sebagai pertunjukan, tetapi sebagai mekanisme pembentukan identitas bangsa melalui jalur budaya, spiritualitas, dan edukasi.
Benteng Terakhir di Tengah Serbuan Budaya Pop
Dalam era globalisasi dan budaya digital, Sri Untari menyoroti risiko terjadinya “perubahan kulit” atau pergeseran jati diri masyarakat.
Dia mencontohkan Filipina yang dipengaruhi kuat budaya kolonial.
Menurutnya, masyarakat Indonesia harus belajar dari kasus tersebut agar tidak tercerabut dari warisan budaya sendiri.
“Dengan kekuatan akar tradisi kita, kita tidak boleh berganti kulit seperti bangsa Filipina,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi refleksi penting tentang bagaimana Wayang Kulit dan budaya Jawa dapat menjadi benteng untuk menghadapi serbuan tren global yang cepat dan massif.
Menjaga yang Tersisa untuk Masa Depan
Dalam penutupnya, Sri Untari mengajak masyarakat untuk kembali merawat tradisinya.
“Mari kita merawat Jawa Timur agar masyarakat Jawa Timur sehat, selamat, banyak rezekinya, hilang penyakitnya, kari seger warase,” tegas Sri Untari.
Di tengah maraknya budaya pop dan konten digital yang mendominasi keseharian, Wayang Kulit tetap berdiri sebagai elemen penting dari warisan budaya Nusantara.
Melalui pertunjukan, nilai, dan sejarahnya, kesenian ini terus berperan menguatkan identitas bangsa sekaligus memperkaya keberagaman budaya Jawa yang selama ini menjadi pijakan kehidupan sosial masyarakat. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama