RADARTUBAN - Berbusana tradisional kini bukan lagi sekadar urusan upacara adat, melainkan telah bertransformasi menjadi identitas mode yang modern dan dinamis.
Hal ini tampak dalam upaya pelestarian Kebaya Nyonya Peranakan oleh pengrajin dan desainer lokal di Jakarta sepanjang 2025.
Inisiatif tersebut bertujuan menjaga warisan budaya UNESCO agar tetap relevan bagi generasi muda.
Melalui inovasi desain dan material yang lebih nyaman, kebaya hasil akulturasi budaya ini kembali hadir di ruang publik, seperti dijelaskan dalam diskusi bersama Jojo Gouw, desainer kebaya, di kanal YouTube Podcast Nusantara pada Jumat (12/12).
Kebaya Nyonya Peranakan memiliki sejarah panjang yang bermula dari adaptasi busana wanita Belanda terhadap iklim tropis Batavia.
Para wanita Peranakan kemudian menyempurnakannya dengan potongan lancip di bagian depan untuk memberi kesan tubuh lebih jenjang.
Seiring waktu, kebaya ini menjadi identitas budaya yang khas. Namun, kelestariannya kini menghadapi tantangan akibat anggapan bahwa berkebaya terkesan kuno dan membatasi mobilitas sehari-hari.
Untuk mematahkan stigma tersebut, berbagai modifikasi dilakukan agar kebaya menjadi lebih praktis.
Salah satu inovasi yang paling menonjol adalah penggunaan pengait modern seperti resleting tanpa harus mengubah esensi bordir yang menjadi nyawa dari pakaian tersebut.
"Saya punya ketertarikan untuk membuat kebaya itu agar tidak kelihatan jadul dan tidak kelihatan ribet, misalnya untuk anak-anak muda saya buat pakai resleting agar simpel sekali," ujar Ko Jojo.
Selain aspek kepraktisan, perbedaan kualitas antara produk massal hasil mesin dan buatan tangan juga menjadi sorotan utama.
Kebaya premium yang dikerjakan secara manual memiliki nilai seni yang jauh lebih tinggi karena detail bordirnya yang sangat kompleks dan kaya akan warna.
Desainer tersebut menjelaskan, "Satu kebaya itu bisa hampir 30 warna benang, itu yang membuat nilai kebaya lebih mahal karena kualitas dan desainnya pasti berbeda dari buatan komputer," ungkapnya.
Meski peminat dari luar negeri seperti Malaysia dan Singapura terus meningkat, kebanggaan warga lokal terhadap kebaya harus terus dipupuk agar tidak hilang ditelan zaman.
Penggunaan kebaya kini tidak lagi kaku karena bebas dipadukan dengan celana jeans hingga sepatu kets tanpa menghilangkan kehormatan budayanya. Kepercayaan diri menjadi kunci utama bagi siapapun yang mengenakannya agar pesona busana ini terpancar sempurna.
"Berkebaya itu harus punya percaya diri agar bisa memfokuskan bahwa ini loh saya, ini loh Indonesia," tegas Ko Jojo. Melalui gerakan cinta produk lokal dan regenerasi pengrajin bordir manual, diharapkan Kebaya Nyonya Peranakan tetap abadi melintasi berbagai generasi. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni