Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Gen Z di Dunia Kerja: Manja atau Menggugat Budaya Underpaid, Overworked, dan Undervalued?

M. Afiqul Adib • Rabu, 7 Januari 2026 | 11:00 WIB
Gen Z di dunia kerja yang mendobrak dunia.
Gen Z di dunia kerja yang mendobrak dunia.

RADARTUBAN - Fenomena Gen Z di dunia kerja sering memunculkan perdebatan. Sebagian orang menilai mereka manja, tidak tahan tekanan, dan terlalu banyak menuntut.

Namun, di sisi lain, Gen Z justru dianggap sedang menggugat budaya lama yang penuh ketidakadilan: gaji rendah (underpaid), jam kerja berlebihan (overworked), dan minim apresiasi (undervalued). Artikel ini mencoba melihat fenomena tersebut secara lebih jernih.

Gen Z dan Label “Manja”

Tidak sedikit yang menilai Gen Z sebagai generasi manja. Mereka dianggap mudah menyerah, cepat bosan, dan terlalu sensitif terhadap kritik.

Di kantor, Gen Z sering dikaitkan dengan sikap “tidak loyal” karena mudah pindah kerja jika merasa tidak cocok.

Label manja ini muncul karena mereka berani menolak sistem kerja yang dianggap tidak sehat, sesuatu yang generasi sebelumnya mungkin lebih sering terima begitu saja.

Menggugat Budaya Lama

Namun, jika dilihat lebih dalam, sikap Gen Z bukan sekadar manja. Mereka sedang menggugat budaya kerja yang sudah lama dianggap normal: bekerja berlebihan dengan gaji minim, dan jarang mendapat apresiasi.

Gen Z tumbuh di era digital, terbiasa dengan informasi yang cepat, dan lebih sadar akan isu kesehatan mental.

Mereka tidak segan menyuarakan bahwa bekerja harus seimbang dengan kehidupan pribadi, bahwa gaji harus sesuai dengan beban kerja, dan bahwa apresiasi bukan sekadar formalitas.

Underpaid, Overworked, Undervalued

Budaya kerja lama sering kali menempatkan pekerja dalam posisi sulit. Banyak yang bekerja keras dengan jam panjang, namun gaji tidak sepadan.

Apresiasi pun minim, sehingga pekerja merasa undervalued. Gen Z menolak kondisi ini.

Mereka lebih memilih mencari pekerjaan yang memberi keseimbangan, meski harus berpindah-pindah. Bagi mereka, loyalitas bukan pada perusahaan, melainkan pada nilai dan kesejahteraan diri.

Fenomena di Kantor

Fenomena Gen Z di kantor terlihat jelas: mereka lebih vokal, lebih berani menuntut, dan lebih cepat mengambil keputusan untuk keluar jika merasa tidak dihargai.

Hal ini kadang membuat generasi sebelumnya bingung, bahkan kesal.

Namun, di sisi lain, sikap Gen Z memaksa perusahaan untuk berbenah. Budaya kerja yang sehat, gaji yang layak, dan apresiasi yang tulus kini menjadi tuntutan nyata.

Gen Z di dunia kerja bukan sekadar generasi manja.

Mereka sedang menggugat budaya lama yang penuh ketidakadilan: underpaid, overworked, dan undervalued.

Fenomena ini bisa dilihat sebagai tantangan sekaligus peluang. Tantangan bagi perusahaan untuk beradaptasi, dan peluang untuk menciptakan budaya kerja yang lebih manusiawi.

Pada akhirnya, keberanian Gen Z menyuarakan ketidakadilan adalah langkah penting menuju dunia kerja yang lebih sehat dan berkelanjutan.(*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Gen Z #kerja #manja #budaya