
RADARTUBAN — Isu Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Indonesia kembali menjadi pusat perhatian publik.
Krisis asap tahunan yang melanda berbagai wilayah di Sumatra dan Kalimantan tidak hanya merugikan masyarakat lokal, tetapi juga memicu ketegangan diplomatik dengan negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara.
Dalam pembukaannya, Raymond Chin menyoroti betapa buruknya kualitas udara di daerah terdampak yang telah memasuki kategori berbahaya bagi kesehatan manusia.
Kabut asap pekat yang menyelimuti permukiman warga memaksa sekolah-sekolah diliburkan dan meningkatkan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara signifikan.
Krisis lingkungan ini dinilai bukan lagi sekadar bencana alam biasa, melainkan masalah struktural yang terus berulang tanpa penyelesaian yang tuntas.
Baca Juga: Anggota Parlemen Malaysia Desak Indonesia Tangani Karhutla dan Minta Maaf soal Kabut Asap
Selain dampak lokal, tayangan tersebut mengulas tanggapan internasional yang kian tajam terhadap Indonesia.
Negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura secara terbuka melayangkan protes atas kabut asap lintas batas (transboundary haze) yang mengganggu aktivitas perekonomian dan kesehatan warga mereka.
Bahkan, sosok ternama dunia sekaligus aktivis lingkungan, Leonardo DiCaprio, turut menyuarakan keprihatinannya terhadap pengerusakan hutan tropis di Indonesia yang memicu lonjakan emisi karbon global.
Membahas persoalan hukum dan tanggapan pemerintah, Raymond Chin menyoroti kontradiksi antara sanksi pidana yang diatur dalam undang-undang dengan realitas penegakan hukum di lapangan.
Meskipun regulasi menegaskan adanya ancaman penjara dan denda berat bagi pelaku pembakaran hutan, ketegasan penindakan terhadap korporasi besar sering kali dinilai masih lemah dan lambat.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




