RADARTUBAN - Kekhawatiran terhambatnya pengerjaan proyek strategis nasional (PSN) Kilang New Grass Root Refinery (NGRR) Tuban akibat perang Ukraina dan Rusia akhirnya jadi kenyataan.
Dikutip dari detikfinance, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan, investor Rusia di proyek Kilang NGRR Tuban kesulitan merealisasikan suntikan dana.
Karena itu, pemerintah berencana mencari investor baru untuk proyek yang berlokasi di Jenu, Tuban, Jatim tersebut.
Airlangga mengatakan, situasi geopolitik usai Rusia menginvasi Ukraina, membuat negara tersebut dikucilkan.
Investasi Rusia di kilang Rosneft pun terhambat.
"Rusia menghadapi blokade dan persoalan ekonomi dan geopolitik, sehingga mungkin sulit untuk melanjutkan, dicarikan partner lain," ujar Airlangga di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (5/10).
Airlangga menyatakan sudah
meminta Kementerian BUMN dan Kementerian ESDM untuk mencari investor baru pada proyek yang masuk daftar PSN tersebut.
"PSN-nya masih in karena kan proyeknya kan masih in cuma partnernya yang harus dicarikan baru," ungkap Airlangga.
Ketertarikan sejumlah investor untuk masuk pada proyek NGRR Tuban sebelumnya disampaikan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan.
Dikutip dari bisnis.com, pernyataan Luhut tersebut merespons kepastian investasi akhir atau final investment decision (FID) dari Rosneft yang beberapa kali mengalami penundaan akibat sanksi akibat perang.
Dia menegaskan, Pertamina telah menyiapkan rencana kerja yang baik dalam menjalankan penugasan peremajaan serta pembangunan kilang baru tersebut.
Luhut menyebut PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) telah mengajukan opsi penambahan mitra kerja strategis baru untuk percepatan proyek kilang Tuban kepada rekanan bisnis mereka, Rosneft Singapore Pte Ltd.
Sementara itu, Direktur Utama PT KPI Taufik Aditiyawarman menerangkan, pengajuan mitra baru tersebut seiring dengan dampak sanksi dunia barat untuk penyelesaian keputusan akhir investasi PSN tersebut.
Dia mengatakan, pengajuan tersebut sudah disampaikan direksi KPI kepada Rosneft pada April 2023 melalui video conference.
Taufik berpendapat penambahan mitra baru harus dilakukan untuk mengimbangi sanksi yang saat ini diterima Rosneft.
Terlebih, hingga saat ini Rosneft Singapore Pte Ltd belum juga menyetujui penyertaan modal untuk pengembangan proyek atau site development lantaran belum mendapat keputusan akhir investasi dari GRR Tuban.
Setelah pengerjaan kilang beberapa kali diundur, Kementerian ESDM juga menagih kepastian investasi tersebut dibuat pada Juni tahun ini.
Proyek pembangunan kilang di Tuban bernilai investasi US$13,5 miliar atau setara dengan Rp205,05 triliun tersebut dikerjakan PT Pertamina (Persero) bersama dengan perusahaan minyak Rusia, Rosneft Singapore Pte Ltd.
Kilang Tuban ditargetkan memproduksi 300.000 barel minyak per hari (BPH) dengan kualitas produk EURO 5.(ds)