Tarian THR jadi Tren di Lebaran 2025, Netizen Debatkan Kemiripan dengan Tarian Hora Yahudi
Hardiyati Budi Anggraeni• Jumat, 4 April 2025 | 21:39 WIB
Tarian THR Lebaran 2025 dianggap menyerupai tarian Hora Yahhudi
RADARTUBAN- Lebaran 2025 atau Idul Fitri 1446 Hijriah diramaikan oleh tren unik di media sosial. Tarian THR, yang belakangan menjadi sensasi dan dibanjiri jutaan tayangan di berbagai platform.
Gerakannya sederhana, enerjik, dan mudah ditiru, menjadikannya viral dalam waktu singkat.
Namun di balik keseruannya, muncul perdebatan hangat soal kemiripan gerakannya dengan tarian Hora, tarian tradisional yang berasal dari budaya Yahudi.
Apakah benar ada pengaruh budaya lain dalam tarian ini? Atau hanya sekadar kebetulan? Simak faktanya.
Tren Tarian THR berawal dari unggahan netizen yang menyisipkan humor pada tradisi tahunan, yaitu tradisi meminta tunjangan hari raya (THR).
Dengan iringan musik jenaka dengan gerakan melangkah ke kanan-kiri lalu lompat kecil maju-mundur, tarian ini menjadi populer sebagai bentuk ekspresi ceria menyambut Lebaran.
Tak hanya masyarakat awam, beberapa selebritas dan figur publik pun ikut meramaikan, membuat tren ini semakin masif.
Namun, di tengah viralnya, beberapa warganet mulai menyadari adanya kemiripan gerakan dengan tarian Hora, yang punya akar kuat dalam tradisi Yahudi.
2. Simbol Perayaan dan Persatuan dalam Budaya Yahudi
Tarian Hora dikenal luas sebagai bagian dari perayaan komunitas Yahudi, seperti pernikahan dan festival keagamaan.
Biasanya ditarikan beramai-ramai dalam lingkaran sambil menyanyikan lagu seperti Hava Nagila.
Sejarahnya cukup panjang, dan sejak pembentukan negara Israel tahun 1948, Hora menjadi bagian dari identitas budaya nasional mereka.
Gerakannya juga cukup mirip dengan Tarian THR, salah satu cirinya dengan langkah ke samping dan lompatan ritmis.
Kemiripan inilah yang kemudian memunculkan pertanyaan apakah tren yang viral ini secara tidak sadar mengadopsi unsur budaya lain?
3. Hiburan atau Penyerupa Budaya?
Di media sosial, perdebatan pun tak terelakkan. Sebagian menganggap tarian THR hanyalah hiburan ringan tanpa makna ideologis.
Namun ada juga yang memperingatkan soal pentingnya menjaga jarak dari budaya yang memiliki kaitan kuat dengan nilai-nilai keagamaan lain, terlebih jika hal itu berpotensi menimbulkan penyerupaan simbolik.
Beberapa pihak mengutip hadits yang menyebutkan, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka,” sebagai dasar untuk menolak tren tersebut.
Namun ada pula yang menilai bahwa konteks hadits tersebut tidak serta-merta relevan untuk urusan hiburan di media sosial, selama tidak mengandung unsur yang bertentangan dengan nilai Islam.
Beberapa tokoh agama dan ahli budaya menganjurkan agar masyarakat lebih berhati-hati, namun tidak reaktif.
Mereka menekankan pentingnya kebijaksanaan dalam menyeleksi tren, terutama yang berhubungan dengan budaya atau agama lain.
Menurut mereka, tidak semua kemiripan berarti penyerupaan, dan tidak semua bentuk hiburan otomatis harus dihindari.
“Yang penting adalah niat, konteks, dan substansi. Kalau tujuannya sekadar bersuka cita menyambut hari raya tanpa niatan meniru budaya tertentu, maka tidak bisa langsung dianggap salah,” ujar seorang pengamat budaya pop. (*)