Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Benarkah Membunuh Kecoak dengan Diinjak Bisa Picu Masalah Kesehatan? Begini Penjelasannya

Nadia Nafifin • Minggu, 20 April 2025 | 17:05 WIB
Bolehkan membunuh kecoak dengan cara diinjak? Begini penjelasan medisnya.
Bolehkan membunuh kecoak dengan cara diinjak? Begini penjelasan medisnya.

RADARTUBAN - Kecoak dikenal sebagai salah satu hama paling tangguh dan sulit untuk diberantas.

Ini disebabkan oleh struktur tubuh mereka yang mampu menahan berbagai tekanan fisik, seperti dicubit, diremas, bahkan diinjak.

Menariknya, serangga ini bisa tetap hidup selama beberapa hari meski tanpa kepala, bertahan tanpa makanan hingga sebulan, dan bahkan mampu selamat dari ledakan nuklir.

Tak hanya penampilannya yang membuat geli, kecoak juga membawa berbagai risiko kesehatan, seperti menyebarkan cacing parasit, bakteri berbahaya, dan salmonella.

Oleh karena itu, sangat penting untuk mengendalikan keberadaan kecoak di rumah. Meski demikian, mengusir kecoak secara aman tetap menjadi tantangan tersendiri.

Dilansir dari pest clinik berikut beberapa alasan mengapa tidak boleh membunuh kecoa dengan cara diinjak:

1. Cairan Pencernaan Kecoak yang Tersebar Bisa Menyebarkan Bakteri

Kecoak diketahui sebagai penyebar berbagai jenis bakteri, jamur, virus, dan bahkan parasit dari satu area ke area lain.

Beberapa jenis kecoak dapat membawa parasit penyebab giardiasis, amuba penyebab disentri, serta virus polio.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kecoak memiliki peran penting dalam penyebaran penyakit, karena mereka sering membawa atau mengeluarkan patogen saat memakan kotoran manusia atau berpindah tempat.

Bahkan, bakteri yang hidup dalam usus kecoak bisa bertahan selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, dan akan dikeluarkan melalui kotorannya.

Karena itu, menghancurkan kecoak dengan cara diinjak bukanlah solusi yang aman.

Tindakan ini bisa menyebarkan cairan pencernaannya yang penuh bakteri ke permukaan lantai dan meningkatkan risiko infeksi di rumah Anda.

2. Tubuh Kecoak yang Hancur Bisa Memicu Reaksi Alergi

Tak hanya menyebarkan bakteri dan virus, kecoak juga memiliki protein tertentu yang bisa menjadi alergen bagi sebagian orang.

Alergen adalah zat yang bisa menimbulkan reaksi alergi.

Bagian tubuh kecoak seperti air liur, kotoran, dan sisa tubuhnya – bahkan setelah mati – tetap dapat memicu alergi pada individu yang sensitif.

Karena itu, menginjak atau menghancurkan kecoak tidak disarankan. Potongan tubuh yang hancur bisa menyebar dan memicu reaksi alergi.

Beberapa studi bahkan menunjukkan bahwa paparan awal terhadap alergen kecoak berisiko menyebabkan asma, terutama pada anak-anak usia dini.

Selain itu, alergi terhadap kecoak juga diketahui dapat memperparah serangan asma yang sudah ada.

3. Feromon yang Dilepaskan Kecoa Saat Mati Bisa Menarik Kecoak Lain

Feromon adalah zat kimia yang diproduksi oleh bakteri di dalam usus kecoak, dan digunakan sebagai alat komunikasi antar sesama kecoak.

Ketika seekor kecoa mati, dia mengeluarkan feromon yang dikenal sebagai "bau kematian".

Bau ini memiliki dua fungsi utama: sebagai peringatan bagi kecoak lain agar menjauh dari bahaya, dan sebagai sinyal bagi kecoak yang kelaparan untuk mendekat dan mungkin memakan bangkai tersebut.

Dengan kata lain, bau menyengat dari feromon ini justru bisa mengundang kecoak lain ke area yang sama.

Feromon serupa juga digunakan untuk menarik pasangan atau menandai lokasi yang dianggap cocok sebagai tempat tinggal.

Maka dari itu, membiarkan kecoak mati di rumah tanpa dibersihkan dengan benar bisa memicu datangnya lebih banyak kecoak dan memperburuk infestasi.

Editor : Yudha Satria Aditama
#salmonella #feromon #diinjak #risiko #bakteri #serangga #kecoak #cacing parasit