RADARTUBAN- Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia, Phoebe Ramadina, M.Psi., Psikolog, membagikan sejumlah cara yang dapat dilakukan untuk menghadapi kekecewaan saat keinginan tidak terpenuhi.
Ia menjelaskan bahwa rasa kecewa merupakan reaksi yang wajar dan sangat manusiawi ketika harapan yang dimiliki tidak sesuai dengan realitas, seperti saat menyaksikan pencapaian orang-orang seumuran.
"Hal pertama yang penting dilakukan adalah mengakui perasaan yang muncul. Dengan memberi ruang pada emosi, baik yang nyaman maupun tidak nyaman, kita akan lebih mudah menerima kenyataan dan tidak tenggelam dalam penyangkalan," kata Phoebe, di Jakarta, pada Selasa (3/6), sebagaimana dilansir dari ANTARA.
Phoebe menekankan pentingnya menghindari kebiasaan membandingkan diri dengan cara yang tidak sehat.
Ia mencontohkan bahwa sering kali yang terlihat hanyalah hasil akhir dari pencapaian orang lain, tanpa mengetahui proses panjang serta tantangan yang telah mereka lewati.
Oleh karena itu, ia menyarankan agar seseorang lebih fokus pada perjalanan dan pertumbuhan pribadinya.
Jika menghadapi situasi di mana rencana yang telah disusun, seperti melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, harus ditunda atau tidak dapat terlaksana karena kendala tertentu, Phoebe menyarankan untuk menjaga kesehatan mental dengan kembali mengevaluasi dan memahami tujuan pribadi yang ingin dicapai.
"Tanyakan pada diri sendiri 'Apa langkah kecil yang dapat saya ambil saat ini untuk mendekatkan diri pada tujuan?'," ujarnya
Langkah berikutnya yang dapat diambil adalah mengalihkan perhatian pada hal-hal yang masih berada dalam kendali diri.
Contohnya, merencanakan aktivitas yang ingin dilakukan dalam 24 jam ke depan, memilih kegiatan yang membangun koneksi sosial, atau mengikuti pembelajaran informal yang dapat menambah wawasan dan keterampilan.
Selain itu, penting untuk menjalin hubungan dengan lingkungan yang mendukung agar stabilitas emosi tetap terjaga dan kebutuhan akan dukungan sosial terpenuhi.
Phoebe juga menekankan pentingnya menanamkan keyakinan pada diri sendiri untuk bangkit kembali, dengan menyadari bahwa setiap orang pasti pernah mengalami kegagalan dalam hidupnya.
"Penting bagi kita untuk mengingat bahwa kegagalan dapat menjadi sarana untuk belajar dan mengembangkan diri. Selain itu, jalan untuk mencapai tujuan kita bisa ditempuh melalui berbagai cara," kata dia.
Lebih lanjut, psikolog dari lembaga konsultasi psikologi Personal Growth, Phoebe Ramadina, menganjurkan agar seseorang memberi ruang dan waktu bagi diri sendiri untuk merefleksikan kegagalan yang dialami, lalu mulai menyusun langkah-langkah untuk bangkit kembali.
Namun, apabila perasaan kecewa mulai terasa membebani dan mengganggu aktivitas harian.
Dia menyarankan untuk segera mencari bantuan profesional dari psikolog.
Pendampingan profesional dapat membantu dalam mengelola emosi secara lebih sehat, merancang strategi masa depan, serta mendukung peningkatan kesejahteraan mental secara menyeluruh. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni