Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Zombie Bukan Hanya Fiksi, Begini Cara Jamur dan Parasit Mengontrol Inang di Dunia Nyata

Siti Rohmah • Selasa, 10 Juni 2025 | 15:59 WIB
Ilustrasi zombie
Ilustrasi zombie

RADARTUBAN- Pernahkah Anda membayangkan bahwa di dunia nyata, ada makhluk yang mampu mengendalikan tubuh makhluk lain layaknya zombie?

Salah satu contohnya adalah jamur Ophiocordyceps, yang mampu memanipulasi serangga dengan menyebarkan sporanya ke dalam sistem saraf mereka.

Pertanyaan tentang kemungkinan eksistensi zombie memang sering muncul, terutama setelah kita menonton film atau serial yang mengangkat kisah tentang makhluk hidup yang bangkit dari kematian.

Namun, apakah ada dasar ilmiah yang mendukung keberadaan zombie?

Meskipun kini identik dengan genre horor, ide tentang zombie sebenarnya tidak populer hingga akhir abad ke-20.

Namun, ketakutan terhadap makhluk hidup yang kembali dari kematian telah ada sejak masa Yunani Kuno.

Gagasan modern tentang zombie sendiri berakar dari budaya Haiti pada abad ke-17, ketika dukun voodoo menggunakan ramuan khusus untuk membuat seseorang tampak seperti telah meninggal, padahal sebenarnya hanya dalam keadaan koma akibat racun dari ikan buntal.

Dalam beberapa kasus, orang-orang tersebut "bangkit" setelah beberapa hari, menimbulkan kesan bahwa mereka hidup kembali.

Menariknya, konsep zombie ternyata benar-benar eksis di alam—meski bukan dalam bentuk manusia.

Jamur Ophiocordyceps adalah contoh menakjubkan dari bagaimana parasit dapat mengendalikan inangnya.

Setelah menginfeksi serangga, jamur ini mengambil alih sistem saraf dan memaksanya menuju tempat tinggi agar spora dapat tersebar lebih luas.

Proses ini bahkan bisa membuat kepala inang pecah untuk melepaskan spora.

Selain jamur, ada pula cacing dan tawon parasit yang menggunakan metode serupa.

Tawon permata, misalnya, menyuntikkan racun ke dalam kecoak hidup hingga lumpuh, lalu bertelur di tubuhnya.

Setelah menetas, larva tawon menggunakan tubuh kecoak sebagai sumber makanan.

Secara medis, terdapat kondisi langka yang menyerupai perilaku zombie. Salah satunya adalah Sindrom Cotard, yang membuat penderitanya percaya bahwa mereka telah mati atau membusuk.

Beberapa pasien bahkan meminta untuk dikuburkan hidup-hidup atau mencoba mengakhiri hidup mereka sendiri karena merasa sudah tidak hidup.

Selain itu, kasus-kasus dari Haiti menunjukkan bahwa racun tertentu bisa membuat seseorang tampak mati dan kemudian "hidup kembali".

Namun, ini lebih berkaitan dengan kondisi biologis dan tidak ada hubungannya dengan keinginan untuk memangsa manusia lain, seperti dalam kisah zombie konvensional.

Jika kita mengacu pada definisi zombie dalam film—mayat hidup pemakan daging—jawabannya adalah tidak.

Manusia yang telah dinyatakan mati secara klinis tidak dapat bangkit kembali dan berperilaku agresif tanpa kendali.

Namun, jika kita melihat makhluk lain di alam, terutama serangga, maka bentuk zombifikasi memang mungkin terjadi—meski bukan dalam konteks fiksi ilmiah yang biasa kita kenal.

Akhirnya, semua kembali pada bagaimana Anda mendefinisikan zombie. Jika Anda memilih untuk percaya pada kemungkinan biologis berdasarkan contoh dari dunia hewan, maka jawaban "ya" bisa saja dibenarkan.

Tetapi jika Anda lebih condong pada realisme ilmiah, maka jawabannya tetap: zombie, sebagaimana digambarkan di layar lebar, tidak mungkin ada. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#jamur #zombie #Makhluk Hidup #spora