RADARTUBAN – Kendati istilah sekolah favorit atau unggulan sudah dihapus dan diganti dengan sistem zonasi.
Namun, sejumlah SMAN di wilayah kota yang sebelumnya mendapat predikat sekolah unggulan, tetap menjadi tujuan utama calon siswa baru.
Khususnya yang memanfaatkan sistem penerimaan murid baru (SPMB) jalur prestasi akademik.
Fakta tersebut tampak dari ketatnya persaingan seleksi jalur akademik di beberapa sekolah wilayah kota.
Di SMAN 1 Tuban, misalnya, ratusan siswa berprestasi dari berbagai kecamatan se-Kabupaten Tuban tumplek blek—bersaing merebutkan 25 persen jatah kursi jalur akademik di sekolah yang masih dianggap favorit tersebut.
Begitu juga di SMAN 2 Tuban, kuota jalur prestasi akademik juga menjadi rebutan ratusan calon siswa baru.
Saking ketatnya persaingan SPMB di dua SMAN favorit tersebut, nilai terendah jalur akademik yang diterima di dua SMAN itu pun masih jauh lebih tinggi dibanding nilai akademik tertinggi di sejumlah SMAN pinggiran.
Di SMAN 1 Tuban, misalnya, batas terendah nilai akademik yang diterima di sekolah tersebut adalah 88,97, sedangkan tertinggi 92,73. Begitu pun di SMAN 2 Tuban, nilai tertinggi 90,58 dan terendah 88,02.
Sementara itu, di SMAN 1 Kerek, nilai tertinggi jalur akademik adalah 86,93. Artinya, jika dibanding nilai terendah di SMAN 2 Tuban saja masih kalah tinggi.
Pun di SMAN 1 Kenduruan. Nilai tertinggi jalur akademik di sekolah ujung barat Kabupaten Tuban ini hanya 87,33.
Selain SMAN Kerek dan Kenduruan, kondisi di SMAN 1 Plumpang, SMAN 1 Soko, SMAN 1 Parengan, dan SMAN 1 Singgahan, rata-rata nilai tertinggi jalur akademik juga masih di bawah nilai terendah SMAN 2 Tuban.
Pelaksana Harian (Plh) SMAN 1 Tuban Sumarni mengatakan, pemeringkatan SPMB jalur akademik dilakukan menggunakan sistem. Sehingga nilai terendah akan otomatis tereliminasi.
‘’Karena akan otomatis tergeser oleh pendaftar lain yang nilainya lebih tinggi,’’ tandasnya. (saf/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama