RADARTUBAN - Suhu politik dan sosial di Kabupaten Pati memanas jelang aksi unjuk rasa 13 Agustus 2025.
Sebelas organisasi sosial-keagamaan yang tergabung dalam Forum Organisasi Sosial Keagamaan (Forsika) Kabupaten Pati secara mengejutkan mengeluarkan Pernyataan Sikap resmi.
Mereka mengapresiasi langkah Bupati Pati Sudewo yang membatalkan kenaikan PBB P2 dan mengembalikan hari sekolah menjadi enam, namun sekaligus menegur kebijakan sepihak yang diambil tanpa melibatkan tokoh masyarakat.
Di tengah riuh isu kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB P2) serta polemik perubahan hari sekolah, Forsika Pati yang menaungi 11 ormas besar—mulai dari MUI, NU, Muhammadiyah, hingga Ansor—turun tangan menengahi tensi yang kian meninggi.
Dalam dokumen resmi bernomor 002/FORSIKA/VIII/2025 yang ditandatangani 10 Agustus 2025, mereka menyampaikan lima poin sikap:
1. Apresiasi untuk Bupati atas penerimaan aspirasi masyarakat yang berujung pada pembatalan kenaikan PBB P2 dan pengembalian hari sekolah menjadi enam.
2. Imbauan kepada peserta aksi 13 Agustus agar menjaga ketertiban, keamanan, dan menghindari tindakan anarkis serta ujaran kebencian.
3. Pesan khusus untuk aparat keamanan agar mengedepankan pendekatan persuasif, humanis, dan tidak represif saat mengawal jalannya aksi.
4. Teguran halus kepada Bupati, meminta introspeksi dan permohonan maaf kepada masyarakat atas kebijakan yang diambil secara sepihak tanpa melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat, dan pemangku kepentingan lain.
5. Seruan doa bersama demi situasi Pati yang tetap kondusif, aman, dan damai.
Yang membuat dokumen ini kian bergema adalah deretan tanda tangan tokoh-tokoh penting di Pati, antara lain: KH. Abdul Karim, MA (Ketua MUI Pati), H. Yusuf Hasyim, M.Si (Ketua PCNU Pati), Muhammad Luqman, S.Pd (Ketua PDM Pati), Dr. Hj. Umi Hanik, S.Ag, M.Pd (Ketua PC Muslimat NU), Hj. Muna Asshofa, S.Ag, M.Pd (Ketua PC Fatayat NU), H. Abdullah Syafiq (ketua PC GP Ansor), dan tokoh-tokoh ormas lain seperti IPPNU, PD Pemuda Muhammadiyah, Aisyiyah, Hizbul Wathan, hingga Tapak Suci.
Aksi unjuk rasa 13 Agustus disebut-sebut akan menjadi momen besar karena bakal melibatkan puluhan ribuan massa.
Di tengah tensi tersebut, Forsika berharap pernyataan ini menjadi pagar penyejuk agar unjuk rasa berjalan damai dan tidak berujung ricuh.
Sejumlah pengamat lokal menilai, langkah Forsika ini bukan sekadar imbauan moral, tetapi sinyal politik yang kuat bahwa masyarakat sipil di Pati tak tinggal diam melihat dinamika kebijakan pemerintah daerah. (*)
Editor : Amin Fauzie