RADARTUBAN - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di lingkungan Bea Cukai melakukan langkah tegas dengan menggelar aksi bersih-bersih.
Dalam kegiatan yang dilakukannya tersebut, Purbaya dibuat kaget setelah mendapati adanya praktik under invoicing di salah satu pelabuhan besar yang ada di Indonesia.
Under invoicing tersebut Purbaya temukan saat melakukan inspeksi mendadak di Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai Tipe Madya Pabean (KPPBCTMP) Tanjung Perak serta Kantor Balai Laboratorium Bea dan Cukai (KBLBC) Kelas II Surabaya.
Perlu diketahui, under invoicing adalah suatu praktik pelaporan nilai faktur barang atau jasa yang lebih rendah dari harga yang aslinya, dengan tujuan untuk menekan pembayaran bea masuk dan pajak impor, yang dapat merugikan penerimaan negara.
Dalam unggahan video di akun TikTok resminya, @purbayayudhis, video tersebut memperlihatkan perihal temuan Purbaya yaitu berupa sebuah mesin yang tercatat dengan harga hanya US$ 7 atau sekitar Rp 117.117 (dengan asumsi kurs US$1 = Rp 16.730).
faktanya, setelah dicek di marketplace, harga mesin tersebut harganya hingga mencapai Rp 40–50 juta.
"Pemeriksaan kontainer bagus hasilnya waktu periksa kontainer ada yang menarik harganya kayak murahan masa harga barang sebagus itu cuma US$ 7 dolar di marketplace Rp40-50 juta nanti di cek lagi," ujar Purbaya dalam video dikutip Minggu (16/11).
Selain itu, Purbaya juga melakukan peninjauan terkait dengan pengoperasian alat pemeriksaan peti kemas atau container scanner yang baru dipasang sekitar dua minggu Purbaya melakukan sidak.
Menurutnya, secara umum pelaksanaan di lapangan sudah berjalan cukup baik meski belum sempurna sepenuhnya.
“Laboratorium kita bagus. Tadi saya sampaikan ke teman-teman di lab, kalau ada kekurangan peralatan segera disampaikan agar bisa dilengkapi. Saya juga melihat pengoperasian container scanner yang baru dua minggu dipasang, hasilnya lumayan bagus meski belum sempurna,” jelasnya.
Purbaya juga menjelaskan bahwa proses pemeriksaan Bea Cukai setelah dilakukannya pemasangan container scanner.
Terakhir Purbaya juga memastikan bahwa nantinya data hasil pemeriksaan dari daerah akan langsung terhubung ke kantor pusat di Jakarta.
“Nanti sistem berbasis IT akan saya tarik ke Jakarta, supaya orang Jakarta bisa langsung melihat apa yang terjadi di lapangan,” ucapnya. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama