RADARTUBAN – Banjir besar yang terjadi di Kota Malang pada Kamis (4/12) membuka fakta menyedihkan: bukan hanya hujan deras yang memicu air meluap, tetapi tumpukan sampah yang menyumbat saluran air.
Akibatnya, aliran hujan yang seharusnya mengalir lancar justru terhalang, dan air meluber ke permukiman warga.
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, menyebut peristiwa ini sebagai ironi yang lahir dari kebiasaan buruk masyarakat yang kerap membuang sampah sembarangan.
Dampaknya sangat besar: 73 rumah di 39 titik terendam banjir hanya karena saluran tersumbat.
Drainase Tak Berfungsi, Bak Kontrol Tertutup Bangunan
Dua kawasan paling terdampak adalah Jalan Sidomulyo Gang III, Kelurahan Purwodadi, Blimbing, dan Jalan Kedawung, Kelurahan Tulusrejo, Lowokwaru.
Sistem drainase di lokasi tersebut sudah lama tidak bekerja optimal. Resapan air melemah, dan jalur aliran air tertutup oleh sampah serta bangunan warga yang berdiri tepat di atas bak kontrol.
Padahal, bak kontrol berfungsi vital untuk mengawasi pergerakan air, tetapi kini beberapa di antaranya justru hilang tertelan struktur bangunan permanen. Alhasil, air kehilangan “jalan pulang”.
Pemkot Gerak Cepat: Normalisasi Sungai hingga Tanggul Sementara
Wahyu memastikan Pemkot Malang tidak tinggal diam. Ia menyebut akan menggandeng Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk memperbaiki sistem drainase di Jalan A. Yani, salah satu jalur yang berperan besar dalam aliran air lintas kawasan.
Sementara di Sidomulyo, bak kontrol akan dibangun kembali sebagai langkah perbaikan jangka menengah.
Untuk penanganan darurat, dilakukan pemasangan kantong pasir sebagai tanggul sementara.
“Sungai juga akan kami normalisasi agar aliran air kembali lancar. Karena lokasi ini gang kecil, kami kerjakan lewat kerja bakti bersama warga,” ujar Wahyu.
Banjir Beruntun: Dari Purwodadi hingga Tulusrejo
Selain Sidomulyo, sejumlah kelurahan lain juga merasakan dampak banjir. Di Purwodadi, sebanyak 43 rumah terendam.
Sementara di Sidomulyo, 19 rumah terdampak banjir, bahkan dua rumah mengalami kerusakan berat karena tembok yang jebol diterjang arus.
Di Kelurahan Tulusrejo, tepatnya di Jalan Kedawung, situasi tak kalah berat.
Sebanyak 11 rumah terendam, satu di antaranya mengalami kondisi paling ekstrem dengan ketinggian air mencapai 160 cm, setara dada orang dewasa.
Evakuasi Dramatis dengan Perahu Karet
Melihat ketinggian air yang membahayakan, BPBD Kota Malang bergerak cepat.
Tim SAR dikerahkan membawa perahu karet untuk mengevakuasi warga yang terjebak di dalam rumah. Proses evakuasi berjalan dramatis karena air yang terus bergerak naik.
Sumber Masalah: Sungai Tak Mampu Menampung Luapan
Selain sampah, sejumlah faktor lain memperparah situasi, seperti bozem di Kelurahan Tunggulwulung yang sudah tidak mampu menampung luapan air, serta proyek drainase di Jalan Soekarno–Hatta (Soehat) yang masih berlangsung sehingga aliran air tertahan.
Sejumlah saluran air juga diketahui menyempit bahkan tertutup material bangunan.
Semua kondisi itu mempertegas bahwa problem banjir di Malang bukan sekadar persoalan curah hujan, melainkan akumulasi masalah tata ruang dan perilaku manusia.
Banjir kali ini kembali menjadi pengingat bahwa persoalan sampah dan drainase bukan sesuatu yang bisa diabaikan.
Kebiasaan kecil seperti membuang sampah sembarangan nyatanya bisa menjadi pemicu bencana besar. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni