RADARTUBAN - Dalam perbincangan tentang pernikahan, sering muncul istilah “men marry down, women marry up”. Artinya, laki-laki cenderung menikahi perempuan dengan status sosial atau ekonomi lebih rendah, sementara perempuan cenderung mencari pasangan dengan status lebih tinggi.
Fenomena ini bukan hal baru, tetapi hingga hari ini masih terasa relevan dalam dinamika masyarakat modern.
Akar Budaya dan Sejarah
Fenomena ini berakar dari konstruksi sosial yang sudah lama terbentuk. Laki-laki secara tradisional dipandang sebagai pencari nafkah utama, sementara perempuan dianggap sebagai pihak yang “diangkat” oleh status suami.
Maka, wajar jika laki-laki merasa tidak masalah menikahi perempuan dengan latar belakang lebih sederhana, sedangkan perempuan cenderung mencari pasangan yang bisa memberi rasa aman secara finansial maupun sosial.
Meski zaman sudah berubah, pola pikir ini masih bertahan, seolah menjadi warisan budaya yang sulit dihapus.
Realitas di Era Modern
Di era modern, perempuan semakin mandiri, berpendidikan tinggi, dan berkarier sukses. Namun, fenomena “marry up” tetap terlihat.
Banyak perempuan masih menimbang faktor ekonomi dan status sosial dalam memilih pasangan.
Di sisi lain, laki-laki yang sudah mapan sering kali merasa lebih bebas memilih pasangan dari latar belakang apa pun.
Fenomena ini juga terlihat dalam dunia selebritas atau tokoh publik, di mana pernikahan sering menjadi sorotan karena perbedaan status sosial yang mencolok.
Media sosial memperkuat tren ini, dengan narasi “cari pasangan yang bisa mengangkat hidup” atau “jangan menikah dengan yang tidak selevel”.
Dampak terhadap Relasi
Fenomena “men marry down, women marry up” membawa dampak pada relasi pernikahan.
Ada pasangan yang berhasil membangun rumah tangga harmonis meski berbeda latar belakang, tetapi ada pula yang terjebak dalam ketimpangan kekuasaan.
Ketika status sosial atau ekonomi menjadi faktor utama, hubungan bisa kehilangan esensi: cinta, kesetiaan, dan kerja sama.
Pernikahan seharusnya menjadi ruang setara, bukan arena hierarki. Namun, realitas menunjukkan bahwa banyak orang masih menempatkan status sebagai pertimbangan utama.
Pergeseran Nilai di Generasi Baru
Generasi muda mulai menunjukkan pergeseran nilai. Banyak perempuan yang tidak lagi menjadikan status sosial sebagai syarat utama, melainkan mencari pasangan yang bisa memberi dukungan emosional dan kesetaraan.
Begitu pula laki-laki, semakin banyak yang menghargai perempuan mandiri dan berkarier.
Meski begitu, fenomena “men marry down, women marry up” belum sepenuhnya hilang.
Ia masih hidup dalam percakapan sehari-hari, dalam nasihat orang tua, bahkan dalam standar sosial yang tidak tertulis.
Fenomena “men marry down, women marry up” adalah cermin dari konstruksi sosial yang sudah lama terbentuk.
Meski zaman berubah, pola pikir ini masih bertahan, seolah menjadi kebiasaan yang sulit dilepaskan.
Namun, pernikahan sejatinya bukan soal naik atau turun status, melainkan soal membangun kehidupan bersama dengan cinta, kesetaraan, dan saling mendukung.
Karena pada akhirnya, status sosial bisa berubah, tetapi komitmen dan kasih sayang adalah fondasi yang membuat pernikahan bertahan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni