Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Arab Saudi Turun Salju, Apakah Pertanda Kiamat? Ini Penjelasan Ilmiah dan Pandangan Islam

Bihan Mokodompit • Sabtu, 20 Desember 2025 | 02:35 WIB
Ilustrasi gunung bersalju
Ilustrasi gunung bersalju

RADARTUBAN - Fenomena Arab Saudi turun salju kembali menyita perhatian publik dunia.

Peristiwa langka ini ramai dibahas di media sosial dan memunculkan beragam spekulasi, termasuk anggapan bahwa kejadian tersebut merupakan pertanda kiamat.

Namun, benarkah demikian? Sejumlah pakar cuaca dan rujukan keislaman memberikan penjelasan yang lebih berimbang dan berbasis fakta.

Fenomena Salju di Arab Saudi dari Sudut Pandang Ilmiah

Secara geografis, Arab Saudi memang dikenal sebagai negara gurun dengan suhu panas ekstrem.

Namun, wilayah utara seperti Tabuk dan Al-Jawf memiliki kontur pegunungan yang memungkinkan terjadinya penurunan suhu drastis pada musim dingin.

Dalam kondisi tertentu, massa udara dingin dari Eropa Timur dapat bergerak ke Semenanjung Arab dan memicu hujan es hingga salju.

Sejumlah laporan media internasional menyebutkan bahwa fenomena cuaca ekstrem ini berkaitan erat dengan perubahan iklim global.

Perubahan pola angin dan tekanan udara membuat wilayah yang sebelumnya jarang mengalami suhu dingin kini berpotensi mengalami anomali cuaca.

Karena itu, Arab Saudi turun salju bukan peristiwa mustahil secara ilmiah, meski tetap tergolong jarang.

Pandangan Islam: Antara Tanda Zaman dan Kekuasaan Tuhan

Dalam diskursus keagamaan, muncul anggapan bahwa salju di Arab Saudi merupakan sinyal datangnya hari kiamat.

Namun, para ulama menegaskan bahwa tanda-tanda besar kiamat telah dijelaskan secara rinci dalam Al-Qur’an dan hadits, seperti terbitnya matahari dari barat atau munculnya Dajjal.

Tidak ada dalil sahih yang secara eksplisit menyebut Arab Saudi turun salju sebagai tanda langsung kiamat.

Meski demikian, terdapat hadits yang menyebutkan bahwa Jazirah Arab suatu saat akan kembali hijau dan subur.

Sebagian ulama menafsirkan hal tersebut sebagai bagian dari perubahan iklim global, bukan penanda akhir zaman yang sudah dekat.

Mengapa Narasi Kiamat Mudah Viral?

Fenomena alam langka kerap dikaitkan dengan isu eskatologis karena faktor psikologis dan budaya.

Di era digital, informasi tentang Arab Saudi turun salju cepat menyebar tanpa verifikasi mendalam. Narasi kiamat pun mudah viral karena bersifat emosional dan memancing rasa takut publik.

Padahal, dalam prinsip jurnalistik dan keilmuan, setiap peristiwa perlu dilihat secara objektif dan berimbang.

Mengaitkan salju di Arab Saudi dengan kiamat tanpa dasar kuat justru berpotensi menyesatkan opini publik.

Fenomena Alam, Bukan Vonis Akhir Zaman

Berdasarkan penjelasan ilmiah dan pandangan Islam, Arab Saudi turun salju lebih tepat dipahami sebagai fenomena alam akibat dinamika iklim, bukan pertanda pasti kiamat.

Peristiwa ini dapat menjadi pengingat tentang besarnya kekuasaan Tuhan dan pentingnya menjaga keseimbangan alam.

Alih-alih terjebak dalam spekulasi, masyarakat diimbau untuk menyikapi informasi secara kritis dan merujuk pada sumber yang kredibel.

Dengan begitu, diskursus publik tetap sehat dan tidak menimbulkan keresahan yang berlebihan. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#salju #kiamat #fenomena alam #suhu panas #fenomena #Arab Saudi #hujan es