Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Kita Adalah Generasi Terakhir yang Bisa Melihat Kunang-Kunang, Benarkah?

Amaliya Syafithri • Rabu, 28 Januari 2026 | 15:05 WIB
Ilustrasi kunang-kunang di hutan
Ilustrasi kunang-kunang di hutan

RADARTUBAN – Dalam beberapa tahun terakhir, kunang-kunang, serangga kecil dengan cahaya alami yang khas, telah menjadi simbol perubahan kondisi ekosistem dunia.

Di berbagai komunitas online, termasuk video viral bertuliskan “Kita adalah generasi terakhir yang bisa melihat kunang-kunang”, banyak orang merasa terharu sekaligus khawatir karena makin jarangnya pemandangan kunang-kunang di malam hari.

Kunang-Kunang, Penanda Kesehatan Lingkungan

Kunang-kunang selama ini dikenal sebagai indikator alami kualitas lingkungan. Keberadaan mereka menandakan ekosistem yang masih sehat, lembap, dan minim polusi.

Ketika jumlahnya menurun, para ahli menilai hal itu sebagai sinyal bahwa lingkungan sedang mengalami tekanan serius akibat aktivitas manusia.

Baca Juga: Populasi Kunang-Kunang Menurun, 11 Persen Terancam Punah akibat Pencemaran dan Hilangnya Habitat

Status Populasi Kunang-Kunang Saat Ini

Menurut sejumlah laporan ilmiah dan artikel berita, populasi kunang-kunang secara global memang menunjukkan tren penurunan yang cukup nyata.

Di Amerika Utara, misalnya, beberapa spesies kunang-kunang dilaporkan mengalami penurunan jumlah hingga puluhan persen, bahkan sebagian mulai masuk kategori terancam punah.

Penurunan ini tidak hanya terjadi karena jumlah individu yang berkurang, tetapi juga akibat terganggunya siklus hidup mereka, mulai dari fase larva hingga dewasa.

Polusi Cahaya, Musuh Utama di Perkotaan

Kunang-kunang mengandalkan cahaya alami untuk berkomunikasi dan melakukan ritual kawin.

Namun, lampu jalan, papan reklame, hingga pencahayaan rumah di area perkotaan menciptakan polusi cahaya yang membuat sinyal alami mereka sulit terlihat oleh sesama kunang-kunang.

Akibatnya, peluang mereka untuk berkembang biak menurun drastis.

Hilangnya Habitat Alami

Rawa-rawa, persawahan, dan vegetasi lembap yang selama ini menjadi rumah bagi kunang-kunang terus menyusut akibat alih fungsi lahan.

Banyak kawasan tersebut berubah menjadi pemukiman, kawasan industri, atau pertanian intensif, sehingga ruang hidup serangga bercahaya ini semakin terbatas.


Ancaman dari Pestisida dan Pertanian Modern

Penggunaan pestisida dalam skala besar juga menjadi faktor penting penurunan populasi kunang-kunang.

Zat kimia tersebut tidak hanya membunuh serangga hama, tetapi juga memusnahkan larva kunang-kunang serta sumber makanan alami mereka di tanah dan air.


Benarkah Kunang-Kunang Akan Punah?

Meski jumlahnya terus menurun, para ahli menegaskan bahwa belum ada bukti ilmiah yang menyatakan kunang-kunang akan punah dalam waktu dekat.

Sebagian besar spesies masih dapat ditemukan di habitat alami yang relatif terjaga, seperti hutan, persawahan tradisional, dan kawasan pedesaan.

Artikel dari Kumparan menyebut bahwa klaim “generasi terakhir” lebih merupakan ekspresi emosional masyarakat urban yang jarang lagi melihat kunang-kunang, bukan kesimpulan ilmiah mutlak.


Upaya Konservasi dan Harapan Masa Depan

Agar generasi mendatang masih bisa menikmati cahaya magis kunang-kunang di malam hari, sejumlah langkah perlu dilakukan, antara lain:

  1. Mengurangi penggunaan lampu berlebihan di malam hari,
  2. Melindungi dan memulihkan habitat alami kunang-kunang,
  3. Mendorong pertanian ramah lingkungan tanpa pestisida berbahaya.

Dengan upaya bersama, harapan untuk tetap menyaksikan kunang-kunang menari di kegelapan malam belum sepenuhnya padam. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#pestisida #polusi cahaya #kunang-kunang #serangga kecil