RADARTUBAN – Seorang siswa Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), diduga mengakhiri hidupnya karena tak mampu membeli buku dan pena seharga Rp 10 ribu.
Peristiwa memilukan ini mengguncang nurani publik dan menjadi sorotan nasional.
Tragedi tersebut turut mendapat perhatian Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Muhaimin Iskandar atau yang akrab disapa Cak Imin.
Kronologi Tragis Siswa SD di Ngada
Korban berinisial YBS (10), siswa kelas IV SD, ditemukan meninggal dunia dengan cara gantung diri pada Kamis (29/1).
Sebelum meninggal, korban meninggalkan sepucuk surat untuk ibunya, MGT (47).
“Mama relakan saya pergi. Jangan menangis ya Mama, jangan merindukanku, selamat tinggal Mama,” tulis YBS, sebagaimana dikutip dari unggahan Instagram @pembasmi_kehaluan.
YBS diketahui tinggal bersama neneknya. Sang ibu merupakan orang tua tunggal yang bekerja serabutan untuk menghidupi lima anak.
Permintaan korban untuk membeli alat tulis tidak terpenuhi karena keterbatasan ekonomi keluarga.
Kondisi Ekonomi Jadi Latar Belakang
Keterbatasan ekonomi keluarga menjadi latar belakang kuat dari tragedi ini.
Akses terhadap kebutuhan pendidikan yang seharusnya dasar justru menjadi beban berat bagi keluarga kurang mampu, hingga berdampak fatal pada kondisi psikologis anak.
Kasus ini menyoroti masih rapuhnya jaring pengaman sosial bagi anak-anak di wilayah rentan.
Respons Cak Imin: “Ini Harus Jadi Cambuk”
Menanggapi kejadian tersebut, Cak Imin menyebut peristiwa ini sebagai “cambuk” bagi pemerintah dan masyarakat agar lebih peka dan waspada.
“Ini harus menjadi cambuk ya, kewaspadaan kita, kehati-hatian kita, semua membuka diri untuk mudah dimintai tolong oleh siapa pun,” ujar Cak Imin di Jakarta Pusat, Selasa (3/2), dikutip dari Kompas.
Gotong Royong Jadi Kunci Pencegahan
Ketua Umum PKB itu menekankan pentingnya semangat gotong royong dalam menghadapi persoalan sosial yang kompleks, khususnya kemiskinan dan kesehatan mental anak.
“Pemerintah juga waspada, masyarakat satu dengan yang lain harus gotong royong,” tambahnya.
Alarm Keras bagi Negara dan Masyarakat
Kasus ini disebut sebagai alarm keras bagi negara dalam memastikan akses pendidikan dan pendampingan psikologis bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Pemerintah diminta memperkuat peran pendamping sosial, sementara masyarakat diimbau lebih peka terhadap tanda-tanda tekanan mental pada anak. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni